BERITA TERKINI
Daeng Ical: Dari Politik Akar Rumput Makassar ke Peran di Komisi I DPR RI

Daeng Ical: Dari Politik Akar Rumput Makassar ke Peran di Komisi I DPR RI

Politik di Makassar kerap tumbuh dari ruang-ruang sederhana, mulai dari obrolan di warung kopi, pelataran masjid, hingga sapaan di lorong-lorong kota. Dari ruang sosial seperti itulah nama Syamsul Rizal, yang akrab disapa Daeng Ical, dikenal luas di Sulawesi Selatan.

Daeng Ical digambarkan sebagai figur yang komunikatif dan dekat dengan keseharian warga. Dalam pandangan tersebut, politik tidak semata dipahami sebagai ruang kekuasaan, melainkan cara menjaga hubungan antarmanusia dan merawat komunikasi dengan berbagai lapisan masyarakat.

Perjalanan politiknya menonjol saat mendampingi Moh Ramdhan Pomanto sebagai Wakil Wali Kota Makassar periode 2014–2019. Masa itu disebut sebagai fase penting dalam transformasi Makassar menuju kota metropolitan modern di kawasan timur Indonesia, dengan arah pembangunan yang menekankan keterbukaan, dinamika kota, dan orientasi global.

Dalam periode tersebut, berbagai agenda penataan ruang publik dan pembangunan berbasis masyarakat di lorong-lorong kota disebut berjalan masif. Penguatan pelayanan publik melalui inovasi pemerintahan serta pengenalan konsep “Makassar Kota Dunia” juga menjadi bagian dari arah pembangunan jangka panjang.

Di tengah perubahan itu, Daeng Ical disebut memainkan peran sebagai jembatan sosial-politik. Ia menjaga komunikasi lintas kelompok, mulai dari komunitas pemuda, organisasi keagamaan, aktivis sosial, hingga pelaku usaha lokal, dengan penekanan bahwa modernisasi kota tidak boleh memutus hubungan emosional antara pemerintah dan warganya.

Peran Daeng Ical kemudian berlanjut ke tingkat nasional. Ia kini menjadi anggota DPR RI dan bertugas di Komisi I DPR RI yang membidangi pertahanan, hubungan luar negeri, komunikasi, dan intelijen. Di level ini, ruang kerjanya tidak lagi terbatas pada isu pembangunan kota, melainkan juga menyentuh posisi Indonesia dalam dinamika nasional dan global.

Komisi I DPR RI dipandang sebagai salah satu komisi strategis yang berkaitan dengan diplomasi internasional, geopolitik kawasan, keamanan nasional, serta hubungan antarnegara. Dalam situasi global yang diwarnai ketegangan geopolitik, konflik kawasan, persaingan ekonomi, dan transformasi digital, kehadiran figur dari daerah seperti Daeng Ical dinilai membawa perspektif tersendiri.

Ia disebut membawa sudut pandang Indonesia Timur ke ruang pengambilan kebijakan nasional. Pengalaman sosial-politiknya di Makassar dipahami membentuk keyakinan bahwa hubungan internasional pada akhirnya perlu bermuara pada kesejahteraan masyarakat lokal, termasuk daerah-daerah seperti Sulawesi Selatan.

Dalam konteks Indonesia yang semakin aktif di kawasan Indo-Pasifik, isu diplomasi disebut tidak hanya mencakup hubungan antarnegara, tetapi juga ketahanan pangan, ekonomi maritim, keamanan kawasan, migrasi tenaga kerja, serta peluang investasi global yang berdampak ke daerah.

Artikel tersebut menempatkan perjalanan Daeng Ical sebagai gambaran perpindahan peran dari politik akar rumput di Makassar menuju ruang percakapan global melalui jalur parlemen. Putra Selayar ini digambarkan berupaya membawa pengalaman lokal ke tingkat nasional, sekaligus menjaga agar kebijakan luar negeri dan hubungan internasional tetap relevan bagi masyarakat daerah.

Di luar jabatan dan pembangunan fisik, warisan politik Daeng Ical dalam tulisan itu ditekankan pada kemampuannya menjaga politik tetap membumi di tengah dunia yang semakin kompleks dan global, tanpa kehilangan kedekatan dengan warga di lorong-lorong kota.