BERITA TERKINI
Cincinnati dan Jejak Panjang Katolik di Jantung Amerika, dari Gelombang Imigrasi hingga Kisah Iman JD Vance

Cincinnati dan Jejak Panjang Katolik di Jantung Amerika, dari Gelombang Imigrasi hingga Kisah Iman JD Vance

Sepuluh tahun setelah “Hillbilly Elegy” mengangkat JD Vance ke panggung publik, wakil presiden Amerika Serikat itu dijadwalkan menerbitkan memoar baru berjudul “Communion: Finding My Way Back to Faith” pada Juni 2026. Vance menggambarkan buku tersebut sebagai semacam panduan bagi mereka yang merasa tersesat secara spiritual, dengan harapan pengalamannya dapat membantu pembaca—baik Katolik, Protestan, maupun lainnya—yang mencari rekonsiliasi dengan Tuhan.

“Communion” disebut akan memuat kisah intim perjalanan religius Vance. Namun, Katolik yang ia peluk ketika dikukuhkan di Cincinnati pada 2019 berbeda dari tradisi evangelikal yang ia kenal saat kecil—sebagaimana digambarkannya dalam “Hillbilly Elegy”. Perjalanan Vance dari Protestan, sempat menjadi ateis, lalu beralih ke Katolik, serta pernikahannya dengan seorang perempuan Hindu, juga mencerminkan keragaman lanskap keagamaan di Amerika Serikat.

Cincinnati, lokasi Vance diteguhkan dalam Gereja Katolik di sebuah priorat Dominikan, menjadi salah satu pintu masuk untuk memahami sejarah Katolik di wilayah Midwest Amerika. Kota ini menampilkan bagaimana selama lebih dari seabad, sentimen anti-Katolik pernah menjadi kekuatan besar dalam budaya dan politik, tetapi pluralisme keagamaan berulang kali bertahan.

Dalam memoar pertamanya, Vance menyebut dirinya “Scots-Irish hillbilly”. Kelompok Scots-Irish—Protestan yang berakar dari Skotlandia dan berpindah ke Irlandia pada abad ke-17—memainkan peran penting dalam sejarah. Mereka kemudian bermigrasi ke Amerika dan menetap di wilayah pedalaman koloni, membentuk pengaruh khas yang turut mewarnai budaya Appalachia. Tradisi iman para pemukim ini juga memupuk kesalehan Protestan yang kuat, terlihat dalam kebangkitan religius di perbatasan Lembah Ohio pada awal abad ke-19, ketika para pengkhotbah keliling menyampaikan khotbah terbuka yang membakar semangat massa.

Seiring waktu, batas antara Amerika urban dan rural tidak pernah benar-benar tegas. Pada 1830, seperempat dari sekitar satu juta penduduk Ohio terkonsentrasi di sudut barat daya negara bagian itu, dengan Cincinnati sebagai pusatnya—dijuluki “Queen City” di tengah ekspansi perbatasan Barat Amerika. Kota ini berkembang menjadi tujuan imigran Katolik dari Jerman dan Irlandia, sekaligus menjadi panggung bagi khotbah anti-Katolik dan politik anti-imigran.

Pada 1835, penginjil Protestan terkemuka Lyman Beecher mengecam arus imigran yang ia gambarkan “menerjang seperti air bah”, serta menilai Vatikan dan sekolah Katolik berbahaya bagi Amerika. Dalam iklim prasangka semacam itu, warga Irlandia-Amerika yang Protestan menggunakan istilah Scots-Irish untuk membedakan diri dari pendatang Katolik yang lebih baru. Para pendatang Katolik—banyak di antaranya melarikan diri dari kelaparan dan penganiayaan—sering dicap miskin, buta huruf, dan takhayul.

Meski alarmisme dan kekerasan sesekali terjadi, termasuk kerusuhan etnis pada 1855, hubungan antar-sekte di Cincinnati kerap bersifat pragmatis dan dibentuk oleh rasa kebersamaan dalam kehidupan sipil. Kaum Protestan, misalnya, menyambut berdirinya gereja Katolik pertama di kota itu, dan tidak jarang menyekolahkan anak mereka di sekolah paroki Katolik. Sejumlah warga juga berpindah menjadi Katolik, termasuk kalangan dermawan kaya.

Pada 1837, Uskup Katolik Cincinnati John Baptist Purcell berdebat selama beberapa hari dengan pengkhotbah Protestan Alexander Campbell mengenai keunggulan ajaran Katolik, disaksikan audiens besar. Kedua pihak sama-sama mengklaim menang, sementara hasil penjualan publikasi debat tersebut dibagi rata untuk amal Katolik dan Protestan di Cincinnati.

Memasuki pertengahan abad ke-19, umat Katolik di Cincinnati—meski masih minoritas—jumlahnya melampaui satu denominasi Protestan mana pun, dan menjadi bagian sentral dari lanskap budaya kota. Secara nasional, pada masa itu Katolik baru sekitar 5% dari populasi Amerika Serikat. Angka ini kemudian meningkat hingga tiga kali lipat menjelang pergantian abad, didorong imigrasi dari Eropa selatan dan timur.

Namun, reaksi anti-Katolik berlanjut hingga abad ke-20, bersamaan dengan bentuk-bentuk prasangka keagamaan lain. Undang-Undang Imigrasi AS 1924, misalnya, membatasi imigrasi dari sejumlah wilayah Eropa yang banyak dihuni Yahudi dan Katolik. Sasaran permusuhan yang semula tertuju pada imigran Jerman dan Irlandia, bergeser ke kelompok dari Italia dan Rusia.

Bias terhadap Katolik juga tetap terasa dalam politik Appalachia. Menjelang pemilihan pendahuluan Partai Demokrat 1960, John F. Kennedy berkampanye intensif di West Virginia—wilayah yang dipandang sulit bagi kandidat Katolik lulusan Harvard, tetapi penting secara strategi elektoral. Kemenangannya di negara bagian itu mematahkan anggapan bahwa kandidat Katolik tidak mungkin memenangkan kursi presiden.

Wilayah Ohio selatan, tempat Vance tumbuh dan kemudian berpindah ke Katolik, berada dalam identitas Midwest, tetapi juga dipengaruhi gelombang pekerja yang meninggalkan Appalachia pada pertengahan abad ke-20 demi mencari pekerjaan—termasuk keluarga Vance. Dalam esai 2020 untuk majalah Lamp yang membahas isu-isu Katolik, Vance menulis bahwa persepsi awalnya tentang Katolik cenderung negatif, termasuk anggapan bahwa gereja “menolak legitimasi Kitab Suci”.

Ketika dewasa, ia menjauh dari iman sama sekali. Namun, saat menempuh studi di Yale Law School, Vance mengaku menemukan rasa ingin tahu yang menariknya ke Katolik, terinspirasi oleh pemikir mulai dari Peter Thiel dan filsuf Prancis René Girard hingga teolog abad ke-4, St. Augustine. Dalam esainya, ia juga menulis bahwa ia kerap bertanya-tanya apa pendapat neneknya—seorang perempuan dengan keyakinan Kristiani tetapi skeptis terhadap agama yang terlembaga—jika mengetahui cucunya menjadi Katolik.

Saat ini, sekitar 1 dari 5 orang dewasa di Amerika Serikat adalah Katolik, dan 9% lainnya menganggap diri mereka “Katolik kultural”. Prasangka terhadap tradisi ini disebut telah menurun. Enam dari sembilan hakim Mahkamah Agung beragama Katolik, begitu pula 28% anggota Kongres.

Di sisi lain, iman baru Vance juga menyoroti berkembangnya aliansi antara unsur Katolik Amerika yang konservatif secara budaya dan kelompok kanan religius Amerika, yang sejak kemunculannya pada 1970-an didominasi Protestan konservatif. Dalam beberapa waktu terakhir, keselarasan ini disebut mengalami ketegangan, antara lain terkait kehati-hatian Paus Leo XIV—yang lahir di Amerika—terhadap kebijakan AS, termasuk perang di Iran.

Salah satu momen yang dianggap ironis muncul ketika Vance menegur paus. Setelah Leo menyatakan bahwa para pengikut Yesus “tidak pernah berada di pihak mereka yang dahulu menghunus pedang dan kini menjatuhkan bom”, Vance memperingatkan, “Jika Anda hendak beropini tentang perkara teologi, Anda harus berhati-hati.” Bagaimana ketegangan semacam ini berkembang dalam beberapa tahun ke depan masih akan menjadi perhatian.