BERITA TERKINI
China Tetap Tenang di Tengah Gejolak Perang Timur Tengah, AS Soroti Dugaan Dukungan ke Iran

China Tetap Tenang di Tengah Gejolak Perang Timur Tengah, AS Soroti Dugaan Dukungan ke Iran

Gejolak perang di Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz disebut tidak menggoyahkan posisi China. Meski menjadi pembeli utama minyak Iran, Beijing dinilai mampu menjaga kemandirian energi melalui strategi diversifikasi pasokan yang telah dibangun.

Di tengah situasi tersebut, Amerika Serikat disebut terus mencari kemungkinan keterlibatan China dalam konflik. Pada Senin (13/4/2026), Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun menanggapi tudingan bahwa Beijing mengirim senjata ke Teheran. Ia menegaskan China mengontrol ketat ekspor senjata sesuai hukum nasional dan internasional.

Isu itu turut memicu pernyataan keras dari Presiden AS Donald Trump. Pada Minggu, Trump mengancam akan mengenakan tarif bea masuk tambahan bagi China atau negara lain jika terbukti memasok senjata ke Iran. “Mereka akan dikenakan tarif 50 persen, yang merupakan jumlah yang mengejutkan,” kata Trump dalam acara Fox News.

Sejak dilantik, ancaman tersebut disebut sebagai kali pertama Trump secara terbuka menyinggung China. Pernyataan itu juga muncul menjelang rencana lawatan Trump ke China. Kunjungan yang semula dijadwalkan pekan sebelumnya ditunda menjadi Mei 2026 di tengah serangan AS-Israel ke Iran. Agenda kunjungan disebut mencakup isu ekonomi dan geopolitik.

Newsweek mencatat penyebutan China secara eksplisit oleh Trump meningkatkan pertaruhan ekonomi dunia, di tengah ketegangan AS-China yang telah lama berlangsung melalui perang tarif. Pada saat yang sama, perang AS-Israel terhadap Iran memicu penutupan Selat Hormuz dan menyebabkan lonjakan harga minyak. Peringatan Trump soal tarif dinilai berpotensi berdampak pada hubungan AS-China, rantai pasokan global, serta upaya diplomatik untuk mencegah meluasnya perang. Trump juga menduga China mungkin memberi dukungan terbatas kepada Iran pada awal konflik. “Mungkin mereka sedikit membantu di awal. Tetapi, saya rasa mereka tidak akan melakukannya lagi,” ujarnya.

Beijing membantah tudingan dari AS dan Eropa terkait Iran. Kedutaan Besar China di Washington DC menyatakan China berulang kali menyerukan deeskalasi konflik di Timur Tengah. “China tidak pernah menyediakan senjata kepada pihak mana pun dalam konflik tersebut,” kata seorang juru bicara kedutaan kepada CNN.

China memang memiliki hubungan ekonomi dan diplomatik yang telah lama terjalin dengan Iran. Meski AS berupaya mengisolasi Teheran, Beijing menjalin kemitraan strategis komprehensif sejak 2021. China menjadi pembeli utama minyak Iran sekaligus mitra utama dalam kerja sama infrastruktur.

Namun, sejumlah pengamat menilai hubungan itu lebih berfokus pada ekonomi. James Char, asisten profesor di Program China Sekolah Studi Internasional S Rajaratnam, Universitas Teknologi Nanyang, Singapura, mengatakan Beijing cenderung memberi dukungan retorika kepada Teheran selama perang ketimbang mengirim bantuan militer.

“Jelas, kebijakan ‘non-intervensi’ tradisional Beijing berarti mereka akan terus berhati-hati dalam masalah keamanan di Timur Tengah, meskipun Beijing dan Teheran telah menjalin kemitraan strategis komprehensif,” ujar Char seperti dikutip The Diplomat.

Char menilai Beijing tidak panik karena relasi yang asimetris dengan Iran. Sekitar 80% ekspor minyak Iran ditujukan ke China, sementara hanya sekitar 10% impor minyak China yang berasal dari Iran.

“Iran penting bagi Beijing, tetapi tidak sedemikian pentingnya sehingga China bakal mengambil risiko mengubah sikap kebijakan luar negerinya di Timur Tengah. Dalam kemungkinan terjadinya perubahan rezim di Iran, China mungkin akan kehilangan pemasok, tetapi tidak mengorbankan fondasi perhitungan energi keseluruhannya,” kata Char.

Zongyuan Zoe Liu, peneliti dari Institut Politik Global Sekolah Urusan Internasional dan Publik, Universitas Columbia, menilai respons tenang China bukan bentuk ketidakpedulian atau upaya mencari keuntungan oportunistik. Menurutnya, sikap itu merupakan langkah untuk mengelola risiko, menjaga kondisi eksternal bagi perdagangan dan arus modal, serta melindungi kepentingan nasional.

“Di dunia yang semakin dibentuk oleh gangguan daripada perencanaan, ancaman terbesar bagi ambisi China mungkin bukan kekuatan AS, melainkan ketidakstabilan AS. Para pemimpin China memandang AS sebagai kekuatan yang sedang menurun, tetapi menjadi lebih berbahaya, bukan kurang berbahaya karena beralih ke kekuatan militer,” ucap Liu di Foreign Affairs.

Dalam periode penutupan Selat Hormuz, beberapa negara Asia Timur pengimpor minyak disebut sibuk menyusun strategi agar tidak kekurangan pasokan. China, meski mengimpor sekitar setengah pasokan minyak mentah dan kondensatnya dari negara-negara Teluk, tidak menunjukkan kepanikan.

Char menyebut ada tiga elemen penting dalam strategi keamanan energi Beijing. Pertama, China memiliki cadangan minyak yang besar. Sejumlah analis memperkirakan cadangan mencapai 1,2 miliar hingga 1,3 miliar barel yang terbagi antara persediaan strategis dan komersial, dan disebut dapat bertahan hingga 100 hari.

Kedua, China melakukan diversifikasi hubungan perdagangan untuk mengamankan pasokan energi, baik dari sisi jenis bahan bakar maupun rute pengiriman. Beijing mengimpor minyak dari Timur Tengah, Australia, Asia Tengah, Rusia, Amerika Selatan, dan Afrika, dengan jalur distribusi melalui laut maupun pipa darat, seperti Power of Siberia 1 yang terhubung ke Rusia.

Ketiga, upaya China menjaga hubungan dengan negara-negara yang terisolasi seperti Iran dan Rusia dinilai memberi hasil. Teheran disebut tetap mengizinkan aliran impor minyak mentah ke Beijing meski terjadi blokade de facto.

Meski demikian, Char mengingatkan risiko jangka panjang bagi Beijing berkaitan dengan prospek strategisnya di Timur Tengah. Perang berkepanjangan yang merusak infrastruktur di Iran dan negara-negara tetangga dinilai bukan hanya mengancam aliran minyak, tetapi juga berpotensi menimbulkan efek domino terhadap Inisiatif Sabuk dan Jalan (BRI).

Liu menambahkan, Beijing lebih memprioritaskan apakah perdagangan terganggu, energi tiba tepat waktu, dan apakah krisis global dapat terkendali. “Bagi China, stabilitas bukanlah preferensi yang mudah. Itu adalah prasyarat untuk penguatan nasional yang berkelanjutan,” ujarnya.