Pemerintah China menyatakan terus memantau perkembangan situasi di Semenanjung Korea menyusul munculnya sinyal keterbukaan dialog dari pemimpin Korea Utara Kim Jong Un kepada Amerika Serikat. Beijing menilai stabilitas kawasan tersebut berkaitan dengan kepentingan banyak pihak.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, menegaskan pentingnya menjaga kondisi regional tetap kondusif. “Semenanjung yang damai dan stabil serta penyelesaian masalah secara politik adalah kepentingan semua pihak,” kata Mao dalam konferensi pers di Beijing, Kamis (26/2).
Pernyataan itu disampaikan setelah Kim Jong Un, dalam penutupan agenda penting Partai Pekerja Korea pada Rabu, menyampaikan peluang untuk membuka kembali komunikasi dengan Washington. Namun, tawaran tersebut disertai syarat agar Amerika Serikat menghentikan sikap bermusuhan dan mengakui Korea Utara sebagai negara pemilik senjata nuklir.
Di sisi lain, sikap Pyongyang dinilai masih ambigu. Dalam laporan kebijakan lima tahun, Kim menyatakan negaranya tetap “sepenuhnya siap menghadapi konfrontasi dengan AS di masa depan.”
Media resmi Korea Utara, KCNA, juga melaporkan bahwa penguatan kekuatan nuklir tetap menjadi bagian utama strategi pertahanan nasional. Laporan itu menunjukkan program nuklir Korea Utara masih dipandang sebagai fondasi keamanan negara dan belum akan dilepas dalam waktu dekat.
Situasi ini muncul di tengah kesiapan Washington untuk kembali membuka jalur komunikasi dengan Pyongyang sejak Donald Trump menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat untuk kedua kalinya. Meski Trump dan Kim sebelumnya telah tiga kali bertemu, negosiasi mengenai isu nuklir hingga kini belum menemukan titik temu yang jelas.

