BERITA TERKINI
China Enggan Bantu AS Buka Selat Hormuz, Konflik AS-Iran Picu Penundaan Kunjungan Trump ke Beijing

China Enggan Bantu AS Buka Selat Hormuz, Konflik AS-Iran Picu Penundaan Kunjungan Trump ke Beijing

Ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah China tidak memberikan komitmen untuk membantu Amerika Serikat membuka kembali Selat Hormuz, jalur strategis energi dunia yang terdampak konflik antara AS dan Iran. Permintaan bantuan itu sebelumnya disampaikan Presiden AS Donald Trump di tengah perang yang disebut telah memasuki pekan ketiga dan berdampak pada distribusi minyak global.

Sejumlah analis menilai situasi tersebut justru memberi keuntungan bagi China, yang selama ini menjadi rival geopolitik utama Washington. Ketidakmampuan AS membuka Selat Hormuz secara mandiri dinilai dapat memukul citra kekuatan globalnya. Ali Wyne dari International Crisis Group menyebut langkah Trump sebagai salah perhitungan, karena AS pada akhirnya membutuhkan bantuan dari pihak yang selama ini menjadi pesaing strategisnya.

Dari pihak Beijing, Kementerian Luar Negeri China tidak menyatakan penolakan secara tegas, namun juga tidak menyampaikan kesiapan untuk membantu. China menekankan pentingnya menghentikan operasi militer dan mencegah eskalasi lebih lanjut yang berpotensi mengguncang ekonomi global. Sikap ini memperlihatkan upaya China mempertahankan posisi netral sekaligus mendorong penghentian konflik tanpa terlibat langsung.

Dampak lain dari krisis tersebut adalah tertundanya rencana kunjungan kenegaraan Trump ke China yang sebelumnya dijadwalkan pada 31 Maret 2026. Meski belum dikonfirmasi secara resmi oleh Beijing, komunikasi antara kedua negara disebut masih berlangsung. Presiden Xi Jinping disebut tetap membuka peluang untuk menjadwalkan ulang pertemuan. Trump juga menyatakan hubungan kerja dengan China tetap berjalan baik dan penundaan itu tidak dianggap sebagai persoalan besar.

Di saat konflik berlanjut, China dilaporkan aktif membangun diplomasi di Timur Tengah dan menyalurkan bantuan kemanusiaan senilai USD200 ribu kepada Iran melalui Palang Merah dan Bulan Sabit Merah. Bantuan tersebut ditujukan untuk korban serangan di sebuah sekolah di Minab. Langkah ini dinilai sebagai bagian dari strategi “soft power” China untuk memperkuat pengaruh di kawasan tanpa terlibat dalam operasi militer.

Sementara itu, perpindahan aset militer AS dari kawasan Indo-Pasifik ke Timur Tengah memunculkan kekhawatiran mengenai fokus strategis Washington di Asia. Zack Cooper dari American Enterprise Institute menilai, semakin lama perang berlangsung, semakin besar kekhawatiran sekutu AS di Asia bahwa AS kehilangan fokus strategisnya di kawasan tersebut.

Penundaan kunjungan Trump juga disebut berpotensi menghambat pembahasan isu-isu penting, termasuk penjualan senjata ke Taiwan. Taiwan tetap menjadi salah satu titik paling sensitif dalam hubungan AS dan China. Di satu sisi, AS disebut berkewajiban membantu pertahanan Taiwan, sementara China menegaskan akan mengambil alih wilayah tersebut jika diperlukan.

Sejumlah pengamat menilai China berada dalam posisi diuntungkan tanpa perlu langkah besar. Ketika AS terseret konflik di Timur Tengah, Beijing dinilai mendapat ruang untuk memperkuat posisinya di panggung global. Di sisi lain, ketegangan di Selat Hormuz dipandang bukan sekadar persoalan regional, melainkan ancaman bagi ekonomi dunia, yang menempatkan situasi global pada pilihan sulit antara eskalasi konflik atau upaya diplomasi yang hasilnya belum pasti.