BERITA TERKINI
China Disebut Mainkan Diplomasi Senyap di Balik Gencatan Senjata Iran–AS

China Disebut Mainkan Diplomasi Senyap di Balik Gencatan Senjata Iran–AS

China menilai sebuah resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bersifat bias terhadap Iran, namun Beijing belum secara resmi mengomentari perannya dalam gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat.

Pada Selasa, seorang juru bicara pemerintah menyatakan Menteri Luar Negeri China Wang Yi telah melakukan 26 panggilan telepon dengan pihak-pihak terkait, termasuk Iran, Israel, Rusia, serta negara-negara Teluk. Selain itu, utusan khusus China untuk Timur Tengah disebut turut terlibat dalam diplomasi ulang-alik.

Langkah tersebut dinilai sejalan dengan strategi China yang lebih luas untuk tidak terseret langsung ke dalam dinamika konflik di Timur Tengah. Meski demikian, sikap bungkam Beijing ikut menjadi sorotan internasional. Isu ini bahkan menjadi topik sampul terbaru The Economist dengan judul utama, “Jangan pernah mengganggu musuhmu saat dia melakukan kesalahan.”

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump dijadwalkan melakukan perjalanan ke Beijing bulan depan untuk bertemu Presiden China Xi Jinping. Meski Trump disebut mengakui peran China, hal itu tidak tercantum dalam pernyataan resmi Trump terkait gencatan senjata.

Dalam pengumuman gencatan senjata, Trump secara eksplisit menyebut mediasi Pakistan, termasuk Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Asim Munir yang disebut sebagai “Marsekal Lapangan favoritnya.” Sejumlah ahli menilai pengabaian terhadap China dilakukan secara strategis.

Penulis dan pakar geopolitik Shanaka Anslem Perera menilai, mengakui tekanan China akan menempatkan Beijing sebagai penengah yang setara dalam perang yang dilancarkan Amerika dan kini sedang diselesaikan oleh Amerika. Menurutnya, dengan menonjolkan peran Pakistan, Trump mempertahankan kerangka bahwa AS mendorong hasil negosiasi melalui perantara tepercaya, sekaligus membuat peran China tidak terlihat di mata publik domestik yang dapat menafsirkannya sebagai kelemahan AS.