Bursa saham Asia Pasifik bergerak melemah pada perdagangan Selasa (5/5/2026) di tengah meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz yang menekan minat risiko investor. Sentimen negatif juga dipengaruhi pelemahan pasar saham Wall Street pada perdagangan sebelumnya.
Sejumlah pasar utama di kawasan, seperti Jepang, China, dan Korea Selatan, ditutup sehingga aktivitas perdagangan regional relatif sepi.
Tekanan pada bursa Asia dipicu eskalasi konflik setelah Iran melancarkan serangan sebagai respons atas operasi militer Amerika Serikat untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz. Perkembangan ini dinilai berpotensi menggagalkan gencatan senjata yang sudah rapuh antara kedua negara. Meski demikian, pejabat Iran mengindikasikan pembicaraan antara kedua pihak masih berlangsung.
Di sisi lain, kontrak berjangka S&P 500 cenderung stagnan dalam perdagangan Asia.
Di kawasan, pasar saham Australia menjadi salah satu yang paling tertekan. Indeks ASX 200 turun 0,6% menjelang keputusan suku bunga Reserve Bank of Australia (RBA).
Bank sentral Australia diperkirakan kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin, yang akan menjadi kenaikan ketiga tahun ini, di tengah tekanan inflasi yang kembali meningkat. Lonjakan harga energi akibat konflik Iran turut memperkuat sikap hawkish bank sentral.
Sementara itu, indeks Hang Seng di Hong Kong turun 0,8% seiring pelemahan saham teknologi yang mengikuti tren penurunan di Wall Street. Tekanan juga datang dari aksi ambil untung setelah reli kuat sektor teknologi dalam beberapa pekan terakhir, yang didorong optimisme terhadap kecerdasan buatan (AI).
Secara regional, indeks Straits Times Singapura turun 0,3%, sementara kontrak berjangka indeks Nifty 50 India cenderung stagnan.