Pergerakan saham di Asia terpantau terbelah meski sejumlah pasar mencoba mengikuti penguatan yang terjadi di Wall Street dan Eropa. Sentimen investor masih dibayangi ketidakpastian terkait negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran.
Kabar terbaru menunjukkan Teheran masih enggan membuka pintu negosiasi langsung dengan Washington. Meski ada pertukaran pesan melalui mediator, Iran menegaskan hal tersebut bukanlah perundingan resmi. Analis Macquarie Group menilai gencatan senjata masih jauh dari kenyataan, bahkan memperkirakan potensi eskalasi militer dapat meningkat dalam dua pekan ke depan untuk menekan posisi tawar Iran.
Di kawasan Asia, pergerakan indeks utama menunjukkan arah yang kontras. Di Jepang, Nikkei 225 menguat 0,67% ke level 54.111. Di Australia, ASX 200 bergerak stabil dengan kecenderungan menguat tipis 0,06%. Sementara itu, Korea Selatan mencatat pelemahan lebih dalam, dengan Kospi terkoreksi 1,55%.
Di pasar komoditas, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) merangkak naik dan diperdagangkan di sekitar US$91 per barel pada jam perdagangan Asia.
Dari dalam negeri, sentimen pasar dinilai lebih positif. Setelah melonjak 2,75% ke level 7.302 pada sesi sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini diperkirakan melanjutkan tren penguatan. Optimisme ini turut ditopang lonjakan harga ETF saham Indonesia (EIDO) di New York sebesar 4,71%.
Kembalinya minat beli juga dikaitkan dengan masuknya kembali investor ke pasar setelah libur Lebaran serta penguatan nilai tukar rupiah yang disebut mencatat performa terbaik dalam enam bulan terakhir. Seiring meredanya kekhawatiran geopolitik global, investor mulai mengurangi sikap defensif dan kembali melirik aset berisiko.

