JAKARTA – Buku kuliner “Taste of Nusantara: 80 Bhayangkara Menu for Indonesia’s Free Nutritious Meals Program” memperluas jangkauannya ke Korea Selatan setelah sebelumnya diperkenalkan di sejumlah negara, termasuk kawasan Eropa, Amerika, Timur Tengah, dan Jepang.
Kehadiran buku tersebut diposisikan sebagai bagian dari strategi diplomasi budaya melalui gastrodiplomasi, dengan memanfaatkan makanan sebagai medium komunikasi lintas bahasa dan budaya.
Buku ini memuat 80 menu bergizi dari berbagai daerah di Indonesia. Selain memperkenalkan ragam kuliner Nusantara, isinya juga merepresentasikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disebut sebagai salah satu prioritas nasional.
Dalam sejumlah kunjungan internasional, buku ini digunakan sebagai simbol pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari untuk menyampaikan pesan kebijakan publik. Gagasan yang diusung menekankan bahwa makanan dapat menjadi “bahasa universal” yang menjembatani perbedaan budaya.
Masuknya buku tersebut ke Korea Selatan juga dipandang membuka ruang pembelajaran baru. Korea Selatan disebut telah lebih dulu menerapkan program serupa dalam skala nasional, melalui proses panjang dan sistem yang matang. Praktik dapur sekolah di negara itu digambarkan bukan sekadar fasilitas, melainkan bagian dari budaya yang membentuk rutinitas konsumsi makanan bergizi sejak dini.
Perjalanan buku ini membentuk lintasan diplomasi yang disebut terus tersambung, dari London hingga Davos, Washington hingga Jeddah, kemudian Jepang dan kini Seoul. Di setiap titik, pesan yang dibawa serupa: memperkenalkan Indonesia melalui identitas budaya, sekaligus menunjukkan bahwa kebijakan dapat dikomunikasikan dengan pendekatan yang lebih humanis.
Melalui gastrodiplomasi, buku “Taste of Nusantara” digambarkan tidak hanya sebagai kumpulan resep, melainkan juga sebagai alat komunikasi yang lembut namun kuat untuk menghadirkan wajah Indonesia di panggung global.

