Sebuah buku berjudul Peristiwa Amuk Losari: Konflik Sosial di Kabupaten Brebes 1998 karya Ogy Nurady Yana (Pustaka Indis, 2024) mengulas faktor-faktor yang melatarbelakangi kerusuhan yang terjadi di Kecamatan Losari, Kabupaten Brebes, pada 1998. Buku setebal iii–148 halaman itu memaparkan kondisi sosial ekonomi Brebes pada masa Orde Baru, terutama ketika krisis ekonomi dan instabilitas politik 1998 memengaruhi dinamika kehidupan masyarakat setempat.
Dalam ringkasannya, buku tersebut menjelaskan latar sosial ekonomi masyarakat Brebes, faktor pemicu kerusuhan Amuk Losari, serta dampaknya bagi masyarakat luas dan warga keturunan Tionghoa. Selain menyoroti dampak destruktif seperti perusakan dan penjarahan, buku itu juga menyinggung adanya dampak konstruktif sebagai pelajaran yang dapat dipetik dari peristiwa tersebut.
Salah satu benang merah yang diangkat adalah ketegangan sosial-ekonomi yang disebut bersumber dari kecemburuan sosial terhadap para pedagang, terutama pedagang keturunan Tionghoa. Dalam narasi buku, massa aksi pada saat itu merasa menjadi korban ketidakadilan sistem ekonomi. Pedagang dipandang sebagai pihak yang dihubungkan dengan kenaikan harga dan kelangkaan kebutuhan pokok, termasuk melalui tuduhan penimbunan barang dan menikmati lonjakan harga, sehingga menjadi sasaran utama kerusuhan.
Namun, ulasan terhadap buku tersebut menilai masih ada bagian yang belum tergali rinci, terutama terkait perspektif warga keturunan Tionghoa yang menjadi sasaran dan korban. Ketiadaan narasi eksplisit mengenai bagaimana kelompok tersebut memaknai kerusuhan dinilai membuat pembaca kesulitan memahami peristiwa secara seimbang, karena sudut pandang yang tampil lebih dominan berasal dari pihak massa atau pengamat.
Buku itu juga mengutip pandangan mengenai adanya stigma dan jarak sosial antara masyarakat Jawa dan etnis Tionghoa, antara lain melalui kutipan Wibowo (2001) yang menyebut stereotip saling melekat di kedua kelompok. Dalam peristiwa Amuk Losari, toko-toko milik warga keturunan Tionghoa disebut menjadi sasaran amuk massa, sementara toko dengan label “milik pribumi” atau “milik orang Jawa” dilaporkan cenderung terhindar. Tempat ibadah seperti kelenteng juga disebut tidak luput dari serangan. Meski begitu, buku tersebut juga mencatat bahwa tidak semua warga Losari bersikap diskriminatif; sebagian disebut membantu mencegah massa menyerang toko dan kelenteng.
Dampak psikologis pascakerusuhan turut disinggung melalui keterangan bahwa trauma membuat sebagian warga keturunan Tionghoa takut membuka toko selama sekitar satu bulan. Buku itu juga memuat informasi dari salah satu narasumber penulis yang menyebut seorang warga keturunan Tionghoa mengamankan diri ke Singapura dan hingga 2024 tidak kembali ke Brebes. Dalam bagian rujukan, terdapat pula kajian Pratama (2024) yang membahas dinamika perubahan identitas etnis Tionghoa pascakerusuhan 1998, termasuk kecenderungan sebagian individu mengidentifikasi diri sebagai bagian dari masyarakat Indonesia secara umum.
Selain soal perspektif korban, ulasan itu menyoroti persoalan lain yang dinilai masih menyisakan tanda tanya: tidak terungkapnya provokator atau aktor intelektual di balik kerusuhan. Buku tersebut menyebut kerusuhan merembet ke wilayah lain, termasuk Kecamatan Bulakamba, dengan sasaran yang tetap dikaitkan pada warga keturunan Tionghoa yang dituduh menjadi penyebab kenaikan harga. Pelaku di Bulakamba disebut mengaku bertindak tanpa dorongan pihak tertentu dan tergerak karena melihat massa sudah berkumpul. Namun, pada bagian lain, buku menyatakan provokator dan dalang kerusuhan Losari tidak terungkap dan tidak menjalani proses hukuman.
Menurut penjelasan yang dikutip dalam buku, Kapolres Brebes saat itu menyatakan aparat tidak mungkin menangkap semua orang yang terlibat; penindakan difokuskan pada pelaku yang tertangkap tangan sedang menjarah atau merusak toko maupun rumah. Sementara itu, pihak yang diduga menjadi provokator atau dalang tidak diketahui secara jelas, sehingga motif utama kerusuhan dinilai belum terungkap utuh.
Indikasi keberadaan provokator juga disebut muncul dari temuan Korem Wijayakusuma yang diberitakan Kompas edisi 25 Februari 1998, terkait beredarnya selebaran berisi hasutan untuk mengajak pelajar merusak toko di wilayah Brebes. Selebaran tersebut dinilai memperkeruh situasi karena memuat ajakan melakukan kerusuhan kembali sekaligus menebar teror bahwa kerusuhan besar akan terulang. Buku itu mengemukakan setidaknya dua kemungkinan: adanya oknum yang terlibat langsung atau menjadi dalang, atau pihak yang memanfaatkan situasi kacau untuk kepentingan tertentu, termasuk ekonomi maupun politik.
Dalam bagian pembahasan yang lebih luas, ulasan tersebut mengajukan perlunya pendekatan multiperspektif untuk memahami kerusuhan Amuk Losari. Salah satunya dengan mempertanyakan apakah kerusuhan semata bentuk protes atas kesenjangan sosial-ekonomi, atau juga memuat unsur oportunisme melalui penjarahan. Pertanyaan ini disebut memerlukan kajian lanjutan, termasuk pendekatan psikososial dan penelusuran historis berbasis data lapangan agar kronologi lengkap lebih jelas.
Ulasan itu juga mengaitkan perilaku massa dengan konsep deindividuasi dalam psikologi sosial, yakni kondisi ketika kontrol individu melemah akibat tekanan situasi, sehingga mendorong tindakan impulsif atau menyimpang. Rujukan lain yang disebut adalah pemikiran Stott & Drury (sebagaimana dikutip dalam Himawan dkk., 2022) tentang perilaku kerumunan yang dapat dimotivasi identitas sosial kelompok, membuat individu bertindak spontan tanpa kepemimpinan formal. Dalam konteks Losari, hal itu dicontohkan melalui perusakan dan penjarahan toko, termasuk toko milik Po Haw alias Herawati yang disebut sebagai warga keturunan Tionghoa.
Secara keseluruhan, buku Peristiwa Amuk Losari dinilai berkontribusi dalam menelusuri sejarah kerusuhan 1998 di tingkat daerah, khususnya di Kecamatan Losari, Brebes. Namun, masih terdapat ruang kajian yang dianggap perlu diperdalam, terutama terkait keberimbangan narasi melalui penghadiran perspektif warga keturunan Tionghoa serta pengungkapan lebih jelas mengenai aktor intelektual atau provokator. Kerusuhan Amuk Losari digambarkan sebagai peristiwa yang tidak dapat dijelaskan hanya oleh tekanan ekonomi, melainkan juga terkait stereotip etnis, ketimpangan sosial, lemahnya kepercayaan terhadap institusi, dan situasi politik yang memanas pada masa itu.