Retno Lestari Priansari Marsudi, yang dikenal luas sebagai Retno Marsudi, menjabat Menteri Luar Negeri selama 10 tahun. Perjalanan hidup dan pengalamannya selama mengemban jabatan tersebut kini dituangkan dalam buku Saya Bukan Siapa-Siapa: Rekam Jejak Retno Marsudi (PBK, 2024).
Buku itu dibuka dengan kisah masa remaja Retno ketika keluarganya harus berpindah dari satu rumah kontrakan ke rumah kontrakan lain karena orang tuanya belum mampu membeli rumah. Pada akhirnya, keluarga tersebut memiliki rumah di kawasan Manyaran, yang disebut masih ditempati orang tuanya hingga kini. Bahkan ketika Retno telah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri, orang tuanya dikisahkan tetap enggan pindah dari rumah tersebut.
Pengalaman keluarga tersebut turut membentuk cara pandang Retno terhadap keuangan. Ia disebut belajar dari pengalaman ibunya, sehingga memilih tidak menginvestasikan uangnya pada instrumen seperti obligasi, saham, atau surat berharga lain yang dinilai tidak likuid. Bagi Retno, uang sebaiknya mudah dicairkan agar cepat digunakan dalam transaksi.
Disiplin dan kerja keras juga digambarkan sebagai bagian dari keseharian Retno sejak masa kuliah. Dalam buku itu, ia diceritakan memiliki rutinitas yang ketat: kuliah, lalu kembali ke kos di Jalan Kaliurang Km 5 dan belajar hingga pukul 21.00. Setelah tidur, ia bangun pukul 02.00 untuk salat tahajud, kemudian melanjutkan belajar hingga subuh.
Rutinitas tersebut disebut dijalani selama 3,5 tahun masa kuliah, hingga kehidupannya banyak dihabiskan di kampus, kos, dan sajadah. Di kampus, ia digambarkan lebih sering berada di kelas atau perpustakaan. Gambaran itu turut dibenarkan Duta Besar RI di Paris, Muhammad Oemar, yang menyatakan Retno giat belajar serta teratur dan disiplin dalam menjalani hidupnya.

