BERITA TERKINI
Buku Diki Candra Bahas Mubasyirat dan Peta Krisis Global 2024–2026 dalam Perspektif Akhir Zaman

Buku Diki Candra Bahas Mubasyirat dan Peta Krisis Global 2024–2026 dalam Perspektif Akhir Zaman

SUBANG — Perbincangan mengenai tanda-tanda akhir zaman kembali mengemuka setelah Ketua Majelis Gerakan Akhir Zaman (GAZA), Diki Candra Purnama, memaparkan gagasan dan kajian spiritualnya melalui buku berjudul Blueprint dan Roadmap Akhir Zaman. Dalam buku tersebut, Diki mencoba membaca dinamika zaman melalui pendekatan spiritual, termasuk analisis fenomena mimpi yang dalam tradisi Islam dikenal sebagai ru’ya salihah.

Pemikiran itu disampaikan Diki kepada sejumlah media pada Senin (9/3/2026) sore. Ia menjelaskan, dalam perspektif keilmuan Islam, mimpi benar atau ru’ya salihah memiliki posisi penting untuk memahami tanda dan fenomena yang terjadi di dunia. Menurutnya, mimpi yang diyakini berasal dari Allah memiliki nilai epistemologis karena berada di luar keterbatasan rasio manusia.

Karena itu, Diki menilai ru’ya salihah tidak semata dipahami sebagai pengalaman spiritual personal, melainkan dapat menjadi salah satu petunjuk dalam membaca arah perjalanan zaman. “Ru’ya salihah adalah mimpi yang berada dalam kendali Allah. Dalam sejarah manusia, tidak sedikit mimpi yang pada akhirnya terbukti benar dan menjadi bagian dari petunjuk Ilahi,” ujarnya.

Dalam bukunya, Diki memperkenalkan konsep yang ia sebut sebagai Blueprint dan Roadmap Global Berbasis Mubasyirat. Konsep ini ia jelaskan sebagai upaya membaca perkembangan dunia melalui kumpulan mimpi yang dianggap sebagai kabar baik atau isyarat Ilahi, yang ia sebut mubasyirat.

Diki menyebut gagasan tersebut sebelumnya telah dibahas dalam forum Dialog Internasional pada 1 Mei 2025 yang menghadirkan sejumlah tokoh dan ulama nasional, antara lain Said Aqil Siroj, Abdul Wahid Maktub, serta Wahfiudin Sakam. Kajian serupa juga dipresentasikan dalam seminar bertajuk Blueprint dan Roadmap Berbasis Mubasyirat pada 10 Desember 2025, yang turut menghadirkan pakar manajemen dan ekonomi bersama Diki sebagai pembicara.

Menurut Diki, blueprint yang ia rumuskan tidak hanya bersandar pada interpretasi mimpi, tetapi juga merujuk pada sumber utama ajaran Islam, yakni Al-Qur’an dan hadis. Pendekatan itu dipadukan dengan refleksi spiritual serta dialog dengan metodologi studi agama modern.

Ia menegaskan, konsep akhir zaman dalam Islam tidak selalu identik dengan kehancuran total dunia. Dalam pandangannya, eskatologi Islam justru menggambarkan proses panjang menuju pemulihan keseimbangan dan keadilan global. “Dunia mungkin akan melewati fase-fase yang sangat berat. Namun arah akhirnya adalah pemulihan keseimbangan, bukan kekacauan yang berlangsung selamanya,” katanya.

Diki juga menggambarkan perjalanan sejarah manusia sebagai proses menuju pemurnian moral dan tegaknya nilai keadilan. Dalam kerangka tersebut, berbagai krisis global dipandang sebagai fase transisi menuju tatanan peradaban yang lebih baik. “Sejarah dalam perspektif Islam adalah perjalanan menuju pemurnian manusia dan tegaknya keadilan. Krisis hanyalah mekanisme peralihan, bukan akhir dari peradaban,” ujarnya.

Buku Blueprint dan Roadmap Akhir Zaman setebal sekitar 106 halaman itu disusun dengan pendekatan tematik-analitis, dengan rujukan normatif kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Diki menyebut risalah tersebut juga membuka ruang dialog dengan pendekatan studi agama kontemporer sehingga dapat dikaji secara akademik dan kritis.

Ia menekankan, buku itu tidak dimaksudkan sebagai klaim kepastian tentang masa depan dunia. Menurutnya, karya tersebut merupakan kerangka berpikir yang dapat dijadikan bahan diskusi dan pengembangan ilmu pengetahuan. “Ia bukan dokumen final. Ini adalah kerangka berpikir yang terbuka untuk diuji, dikritisi, dan dikembangkan secara ilmiah,” tuturnya.

Dalam bagian roadmap, Diki menyatakan kajiannya didasarkan pada lebih dari 1.000 mubasyirat kolektif yang telah dihimpun dan dianalisis. Dari simbol-simbol yang muncul, ia mengidentifikasi adanya periode waktu tertentu yang dianggap sebagai fase kritis dalam dinamika global. Ia menyebut rentang 2024 hingga 2026 menunjukkan indikasi fase pemanasan menuju konflik global yang lebih besar, atau yang ia istilahkan sebagai Pre–World War Phase.

“Simbol-simbol dalam mimpi itu menunjukkan adanya peningkatan tensi global. Namun metode pembacaannya tetap berbasis pada mubasyirat kolektif,” kata Diki. Meski demikian, ia menegaskan kajian tersebut tetap berada dalam kerangka analisis fenomenologis dan konseptual, sehingga tidak dimaksudkan sebagai prediksi yang bersifat pasti.

Menutup penjelasannya, Diki mengajak masyarakat menyikapi wacana akhir zaman dengan bijaksana dan penuh kehati-hatian, seraya tetap berpegang pada nilai spiritual. “Secara ruhani, kita perlu menimbang fenomena zaman dengan kebijaksanaan dan kesadaran bahwa Allah Maha Mengetahui segala rahasia waktu,” pungkasnya.