BERITA TERKINI
Buka Puasa Bersama Dubes UEA di Jakarta Soroti Diplomasi Ramadan dan Solidaritas Arab-Indonesia

Buka Puasa Bersama Dubes UEA di Jakarta Soroti Diplomasi Ramadan dan Solidaritas Arab-Indonesia

Ramadan kembali menjadi ruang pertemuan yang tidak hanya bernuansa spiritual, tetapi juga dimanfaatkan sebagai momentum diplomasi. Pada awal pekan ini, Duta Besar Uni Emirat Arab (UEA) untuk Indonesia, ASEAN, dan Timor Leste non-residence, Abdulla Salem Al Dhaheri, menggelar acara buka puasa bersama di Jakarta yang menghadirkan para duta besar negara-negara Arab serta sejumlah pejabat tinggi Indonesia.

Al Dhaheri yang juga menjabat sebagai dean duta besar negara-negara Arab di Indonesia, mengundang sejumlah tokoh penting, antara lain Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin, Menteri Agama Prof. Dr. Nasaruddin Umar, dan Wakil Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir. Sejumlah figur diplomasi senior turut hadir, termasuk Alwi Shihab, Retno Marsudi, serta Yenny Wahid, puteri mantan Presiden Abdurrahman Wahid.

Dalam sambutannya, Al Dhaheri menekankan bahwa Ramadan merupakan waktu refleksi dan kedermawanan yang dapat mempererat hubungan antarbangsa. Ia menyebut Ramadan bukan semata ritual ibadah, melainkan momentum memperkuat persatuan dan memperdalam dialog lintas negara.

Menurutnya, nilai kedermawanan menjadi akar budaya yang mengikat UEA dan Indonesia, serta dapat diwujudkan melalui kolaborasi nyata di berbagai bidang, termasuk ekonomi, pendidikan, dan kemanusiaan.

Acara tersebut juga menjadi momen penyambutan tiga duta besar baru, yakni Duta Besar Palestina Abdulfatah Al Satri, Duta Besar Lebanon Salam Al Ashqar, dan Duta Besar Qatar Dr. Sultan Mubark Al Dosari. Kehadiran mereka dipandang sebagai simbol babak baru dalam diplomasi multilateral dengan Indonesia sebagai tuan rumah.

Dalam pidatonya, Al Dhaheri memuji Indonesia sebagai negara yang memadukan kearifan lokal, moderasi beragama, dan kekayaan budaya. Ia menilai posisi Indonesia sebagai bridge-builder antarnegara membuka peluang penguatan kerja sama strategis, baik pada sektor ekonomi, pendidikan, maupun stabilitas regional.

Al Dhaheri juga menyoroti pentingnya diplomasi kemanusiaan. Ia menyampaikan bahwa UEA, berpedoman pada visi kepemimpinan Yang Mulia Syekh Mohamed bin Zayed Al Nahyan, menempatkan bantuan kemanusiaan sebagai bagian inti dari kebijakan luar negeri. Salah satu inisiatif yang disebut adalah kampanye “Edge of Life” yang menargetkan penyelamatan lima juta anak dari ancaman kelaparan.

Sejumlah pengamat menilai penyelenggaraan acara diplomatik pada bulan Ramadan memiliki daya soft power yang kuat karena menghadirkan ruang percakapan yang lebih hangat dan bersahabat. Dalam konteks itu, buka puasa bersama para duta besar Arab di Jakarta dipandang bukan sekadar seremoni, melainkan strategi diplomasi yang menekankan solidaritas, pemahaman budaya, serta hubungan antarmanusia yang lebih berkelanjutan.