Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) menyatakan sekitar 81% impor minyak mentah Indonesia berasal dari negara yang tidak terdampak atau tidak terlibat konflik di Timur Tengah. Komposisi impor tersebut disebut menjadi salah satu faktor yang membuat pasokan bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri tetap aman.
Anggota Komite BPH Migas Fathul Nugroho menjelaskan, Indonesia paling banyak mengimpor minyak mentah dari Nigeria sebanyak 34,07 juta barel pada periode April 2025 hingga Maret 2026, atau sekitar 25% dari total impor minyak mentah. Setelah itu, impor berasal dari Angola sebesar 28,50 juta barel (21%). Sementara dari negara lainnya tercatat 47,40 juta barel (35%). Adapun impor dari Arab Saudi sebesar 28,50 juta barel atau 19%.
“Artinya kita lebih banyak mengimpor dari negara yang tidak terlibat konflik. Artinya pasokan BBM Indonesia tetap aman,” kata Fathul dalam keterangan resmi, Kamis (12/3).
Dalam kesempatan yang sama, Fathul juga mengimbau masyarakat agar tidak salah menafsirkan informasi mengenai cadangan BBM yang disebut hanya cukup untuk 20 hari ke depan. Menurut dia, angka tersebut berkaitan dengan keterbatasan daya tampung penyimpanan milik Pertamina, bukan menunjukkan pasokan BBM nasional dalam kondisi minim.
Ia merinci kapasitas penyimpanan BBM nasional yang dikelola Pertamina sebesar 6,10 juta kiloliter atau 67%, sedangkan fasilitas non-Pertamina sebesar 3,06 juta kiloliter atau 33%.
“Hingga saat ini, cadangan operasional BBM Indonesia tergolong aman hingga setelah momentum Ramadhan dan Idulfitri 2026,” ujar Fathul.
BPH Migas juga meminta masyarakat tetap tenang dan tidak panik dalam menyikapi gejolak perang di Timur Tengah. Pemerintah, kata Fathul, telah menyiapkan alternatif untuk menutup potensi kekurangan pasokan impor dari kawasan tersebut, mengingat saat ini sekitar 19% impor minyak mentah Indonesia berasal dari Arab Saudi.
“Kendati demikian, pemerintah sudah menyiapkan langkah preventif dengan mengimpor minyak dari negara yang tidak terdampak konflik,” katanya.

