Perwakilan pemerintah dan masyarakat sipil berkumpul dalam Rapat Koordinasi Proyek STRIVE Juvenile Indonesia keempat yang digelar pada 14 Desember 2023 di Jakarta. Pertemuan yang dipimpin Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan diketuai bersama oleh Uni Eropa ini membahas capaian serta langkah lanjutan setelah tiga tahun pelaksanaan program pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap anak oleh kelompok teroris dan ekstremis kekerasan.
Deputi Bidang Kerja Sama Internasional BNPT, Andhik Chrisnayudhanto, menekankan pentingnya pendekatan yang berempati dan bertanggung jawab terhadap anak-anak yang rentan. Ia menyatakan perlunya memastikan anak-anak yang terdampak memperoleh perawatan dan dukungan agar dapat melanjutkan hidup setelah mengalami situasi terkait terorisme dan ekstremisme kekerasan.
Persoalan kompleks yang melibatkan banyak sektor
Dalam pertemuan tersebut, peserta dari sektor keamanan, perlindungan anak, keadilan, pembangunan, serta organisasi masyarakat sipil menyoroti bahwa perekrutan dan eksploitasi anak oleh kelompok teroris merupakan persoalan serius yang berdampak luas, baik bagi anak maupun masyarakat.
Pemimpin Tim Penghapusan Kekerasan Terhadap Anak UNODC, Alexandra Martins, menyebut persoalan ini tidak bisa diselesaikan secara cepat atau oleh satu lembaga saja. Menurutnya, upaya perlindungan anak dari terorisme perlu berbasis bukti, didukung kemauan politik, koordinasi lintas sektor yang efektif, serta investasi sumber daya jangka panjang.
Fokus STRIVE Juvenile: rehabilitasi dan reintegrasi
Proyek STRIVE Juvenile bertujuan membantu mengatasi tantangan dalam mendukung anak-anak yang terkait dengan kelompok teroris dan ekstremis kekerasan agar dapat menjalani rehabilitasi dan integrasi sosial secara efektif. Inisiatif ini juga menempatkan keluarga dan komunitas sebagai bagian dari lingkup dampak yang perlu diperhatikan.
Dalam pemaparan capaian, kerja Indonesia melalui STRIVE Juvenile disebut menunjukkan hasil awal, termasuk tanda-tanda perubahan norma dan perilaku sosial. Sejumlah capaian yang disampaikan meliputi:
- Penyelesaian penelitian tentang keterkaitan anak dengan kelompok teroris untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman atas fenomena tersebut.
- Penerapan pendekatan terpadu yang melibatkan masyarakat dan pemerintah.
- Penguatan reformasi hukum dan kerangka kebijakan berbasis bukti untuk perlindungan anak.
- Pelatihan lebih dari 200 profesional lintas sektor untuk mencegah keterlibatan anak serta mendorong rehabilitasi dan reintegrasi.
- Program peningkatan kesadaran yang menjangkau lebih dari 14.000 anak untuk memperkuat ketahanan mereka.
Penguatan kebijakan dan koordinasi nasional
Indonesia telah mengadopsi Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme pada 2021, yang menekankan pemenuhan hak-hak anak. Selain itu, dikembangkan pula Pedoman Mekanisme Koordinasi Perlindungan Anak Korban Jaringan Terorisme dengan dukungan STRIVE Juvenile, sebagai bagian dari komitmen memperkuat perlindungan anak dari dampak terorisme.
Chrisnayudhanto menegaskan perlunya meningkatkan koordinasi di antara sektor keamanan, perlindungan anak, peradilan, kesehatan, dan pendidikan agar tujuan bersama jelas dan strategi antarinstansi selaras. Ia menyatakan BNPT berperan memfasilitasi kerja sama tersebut dalam praktik.
Kemitraan internasional dan agenda ke depan
Karena perekrutan dan eksploitasi anak oleh kelompok teroris melintasi batas negara, kemitraan internasional dinilai penting. Indonesia disebut aktif bekerja sama dengan UNODC, Uni Eropa, dan ASEAN untuk merespons tantangan regional dan global ini.
Pakar Kontra Terorisme/Keamanan Uni Eropa untuk Asia Tenggara, Marc Vierstrate-Verlinde, menyampaikan bahwa pihaknya memandang kemitraan ini sebagai upaya untuk meningkatkan hasil bagi anak-anak, termasuk melalui penguatan intervensi rehabilitasi dan reintegrasi di dalam negeri, termasuk bagi anak-anak yang kembali ke rumah.
Ketua Proyek STRIVE Juvenile, Katie Blaikie, menyatakan bahwa Indonesia bersama mitra internasional menunjukkan komitmen untuk menangani persoalan kompleks ini melalui kehati-hatian, kolaborasi, dan perencanaan strategis. Ia berharap capaian proyek dapat menginspirasi upaya global dalam melindungi anak dari dampak terorisme dan ekstremisme kekerasan.
Tentang STRIVE Juvenile
Program STRIVE Juvenile: Mencegah dan Menanggapi Kekerasan terhadap Anak oleh Kelompok Teroris dan Ekstremis Kekerasan didanai Uni Eropa dan dilaksanakan oleh UNODC di tiga negara mitra: Indonesia, Irak, dan Nigeria. Program ini bekerja dengan anak-anak dan remaja serta mengembangkan respons nasional yang komprehensif untuk mencegah dan melawan terorisme serta ekstremisme kekerasan yang berdampak pada anak-anak, dengan menghormati hak asasi manusia, kesetaraan gender, dan hukum internasional.

