BERITA TERKINI
Bitcoin Menguat di Tengah Gejolak Global Saat Emas dan S&P 500 Terkoreksi

Bitcoin Menguat di Tengah Gejolak Global Saat Emas dan S&P 500 Terkoreksi

Jakarta — Eskalasi konflik di Timur Tengah memicu ketidakpastian di pasar keuangan global. Di tengah kondisi tersebut, bitcoin justru menunjukkan ketahanan dengan kenaikan sekitar 12 persen dalam 60 hari terakhir dan diperdagangkan di kisaran USD70 ribu hingga USD71 ribu per Selasa, 24 Maret 2026.

Pergerakan bitcoin itu berbanding terbalik dengan sejumlah aset lain. Indeks S&P 500 tercatat turun sekitar empat persen, sementara harga emas terkoreksi hingga 16 persen dan mencatatkan penurunan terbesar sejak 1983 dengan menyentuh level sekitar US4.400 per ons troi. Situasi ini turut mendorong meningkatnya perhatian investor terhadap bitcoin sebagai alternatif lindung nilai di tengah gejolak pasar.

Vice President Indodax Antony Kusuma menilai kinerja kuat bitcoin saat krisis bukanlah fenomena baru. Ia menyebut pola serupa pernah terjadi pada periode krisis pandemi Covid-19, ketegangan AS-Iran pada 2020, hingga konflik Rusia-Ukraina.

Menurut Antony, karakteristik bitcoin yang terdesentralisasi, dapat diperdagangkan 24 jam, serta tidak bergantung pada sistem perbankan konvensional membuatnya relevan ketika stabilitas sistem keuangan terganggu akibat konflik geopolitik. Ia menyebut hal tersebut memberi bitcoin fungsi praktis sekaligus potensi sebagai alternatif lindung nilai.

Sementara itu, Kepala Strategi Logam JPMorgan Greg Shearer menjelaskan penurunan harga emas dipicu aksi sell-off di tengah lonjakan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah yang meningkatkan kekhawatiran inflasi. Tekanan juga datang dari penguatan dolar AS serta meningkatnya keuntungan obligasi, yang membuat emas dinilai kurang menarik dibandingkan aset berimbal hasil dan berpotensi mengubah pola pembelian emas oleh bank sentral.

Di sisi lain, ketegangan di Timur Tengah yang berdampak pada jalur distribusi energi global di Selat Hormuz meningkatkan risiko inflasi seiring lonjakan harga minyak. Kondisi ini mendorong ekspektasi bahwa bank sentral AS (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Dalam situasi tersebut, emas yang tidak memberikan imbal hasil rutin cenderung kehilangan daya tarik, terutama bagi investor institusional.

Meski bitcoin menguat, Antony mengingatkan pasar kripto masih berada dalam fase volatil dengan sentimen yang cenderung berhati-hati. Ia menekankan faktor makroekonomi seperti inflasi dan kebijakan suku bunga masih akan menjadi penentu arah pergerakan harga ke depan.

Karena itu, ia menyarankan investor tetap memperhatikan manajemen risiko dan memahami dinamika pasar secara menyeluruh sebelum mengambil keputusan investasi.