Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan (Sumsel) akan mengalami perlambatan menjelang Hari Raya Idul Adha 2026. Perlambatan ini dipengaruhi ketidakpastian ekonomi global yang berdampak pada aktivitas perdagangan serta stabilitas nilai tukar.
Kepala Kantor Perwakilan BI Sumsel, Bambang Pramono, mengatakan perekonomian daerah masih mencatat pertumbuhan, namun lajunya mulai melambat di sejumlah sektor.
“Ekonomi Sumsel masih tumbuh, tetapi mayoritas pergerakannya melambat,” ujar Bambang.
Menurut Bambang, perlambatan dipicu sejumlah faktor, mulai dari melemahnya aktivitas perdagangan global, tekanan fiskal internasional, hingga pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Berdasarkan kurs Bank Indonesia per 4 Mei 2026, nilai jual dolar AS tercatat sebesar Rp17.564,89, sedangkan nilai beli berada di angka Rp17.291,11.
Meski menghadapi tekanan global, BI menyatakan tetap optimistis pertumbuhan ekonomi Sumsel pada 2026 dapat berada di kisaran 5,4 hingga 5,7 persen.
“Kita tetap optimistis pertumbuhan ekonomi bisa berada di atas 5 persen,” katanya.
Bambang juga mengingatkan perlambatan ekonomi berpotensi memicu kenaikan harga sejumlah komoditas atau inflasi. Jika inflasi tidak terkendali dalam jangka panjang, kondisi tersebut dikhawatirkan dapat menekan daya beli masyarakat.
“Kalau inflasi terlalu tinggi dan berlangsung lama, itu bisa menghambat ekonomi,” jelasnya.
Di sisi lain, kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di Sumsel pada kuartal I 2026 masih menunjukkan tren positif. Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Sumsel, Rahmadi Murwanto, menyebut belanja pemerintah masih menjadi penopang utama ekonomi daerah di tengah tekanan ekonomi global.
“Belanja pemerintah tumbuh positif sebesar Rp2,91 triliun yang didorong oleh belanja modal dan belanja pegawai,” ujar Rahmadi.
Namun, realisasi Transfer ke Daerah (TKD) di Sumsel tercatat sebesar Rp6,59 triliun dan mengalami sedikit perlambatan akibat penyesuaian alokasi anggaran nasional.