BERITA TERKINI
Berbagai Pendekatan Mengelola Isu Keamanan Penerbangan Global di Tengah Ancaman dan Tekanan Infrastruktur

Berbagai Pendekatan Mengelola Isu Keamanan Penerbangan Global di Tengah Ancaman dan Tekanan Infrastruktur

Industri penerbangan global menghadapi tantangan keamanan yang kian kompleks, mulai dari risiko geopolitik, ancaman teror, hingga metode penyelundupan dan perdagangan manusia yang semakin canggih. Perubahan politik di sejumlah pasar utama juga disebut berdampak pada kepatuhan terhadap standar internasional, perubahan regulasi, serta penegakan aturan yang lebih ketat.

Kondisi tersebut memengaruhi persepsi penumpang terhadap keselamatan dan keamanan bandara maupun pesawat. Dampaknya meluas ke pengambilan keputusan di tingkat dewan dan manajemen senior, termasuk keputusan investasi seperti pembukaan rute baru ke pasar berkembang, pengembangan ulang bandara yang sudah ada, pembangunan bandara baru, serta investasi inovasi dan penerapan teknologi digital.

Di sisi lain, tantangan ini juga dinilai membuka peluang pertumbuhan, terutama bagi pihak yang mampu mengidentifikasi dan mengelola ancaman yang muncul, meningkatkan efisiensi layanan bandara melalui teknologi, serta menjaga kepatuhan terhadap standar keselamatan dan keamanan dalam operasi penerbangan global.

Ancaman yang terus berkembang

Lingkungan ancaman penerbangan digambarkan terus berubah, antara lain melalui serangan fisik yang semakin canggih terhadap pesawat dan infrastruktur penerbangan, pemanfaatan paksaan dan orang dalam untuk memfasilitasi aksi kriminal, ancaman terhadap wilayah udara penerbangan sipil, hingga serangan siber yang dapat mengganggu proses kritis.

Serangan siber disebut berpotensi menargetkan sistem kontrol lalu lintas udara, alat bantu navigasi, serta sistem pemesanan dan manajemen penumpang. Di sektor penerbangan, keberhasilan penargetan terhadap pesawat maupun rantai pasokan dapat berdampak sangat besar, termasuk konsekuensi reputasi dan keuangan jangka panjang.

Maskapai dan operator bandara selama ini kerap bergantung pada otoritas negara untuk peringatan dini dan saran ketika ada informasi atau intelijen mengenai rencana tindakan melanggar hukum. Namun, dengan meningkatnya beban pada sumber daya badan intelijen dan penegak hukum, kebutuhan agar maskapai dan operator bandara bersikap lebih proaktif dalam menganalisis lingkungan keamanan tempat mereka beroperasi menjadi semakin penting.

Penguatan mekanisme manajemen risiko

Untuk itu, diperlukan mekanisme pengumpulan dan penguatan informasi ancaman, baik dari sumber terbuka maupun melalui jaringan lokal dan penyedia pihak ketiga, sebagai bagian dari proses manajemen risiko. Kerangka kerja ini ditujukan untuk menilai kerentanan operasi berdasarkan kemampuan dan maksud pelaku ancaman yang teridentifikasi, sekaligus memetakan risiko yang dihadapi.

Setiap risiko perlu dianalisis dan dievaluasi guna memahami dampaknya terhadap bisnis dan operasi penerbangan. Jika risiko dinilai tidak dapat diterima, tindakan dan pengendalian yang sepadan perlu diterapkan agar risikonya turun ke tingkat residu yang dapat diterima.

Manajemen ancaman dan risiko juga ditekankan sebagai proses berkelanjutan, bukan aktivitas satu kali. Praktik ini perlu berjalan pada tingkat strategis dan operasional, termasuk untuk meninjau operasi yang ada serta mendukung keputusan pembentukan rute atau stasiun baru. Kolaborasi dan berbagi informasi ancaman dan risiko secara terkendali dan terkoordinasi juga dipandang penting untuk meningkatkan keamanan bagi seluruh pihak.

Tekanan infrastruktur dan kebutuhan inovasi

Di tengah peningkatan perjalanan udara global, banyak bandara disebut masih mengoperasikan infrastruktur yang dibangun pada akhir 1980-an dan 1990-an, yang tidak dirancang untuk menangani volume pesawat, penumpang, bagasi, dan kargo seperti saat ini. Untuk menjawab lonjakan permintaan, sejumlah bandara melakukan pembangunan terminal baru, jaringan transportasi, landasan pacu, area pergerakan pesawat, serta peningkatan fasilitas layanan darat.

Pembangunan yang kerap dilakukan di dalam batas perimeter bandara yang ada dapat menghasilkan tata letak lebih kompleks, termasuk bertambahnya batas sisi udara dan sisi darat. Kompleksitas ini menambah tantangan pengamanan di fasilitas yang sudah termasuk tersibuk di dunia.

Bandara juga dituntut mendorong efisiensi melalui inovasi, seperti inisiatif keamanan penerbangan yang lebih canggih dan identifikasi biometrik. Tujuannya meningkatkan kualitas layanan sambil mempertahankan tingkat penyaringan keamanan yang setara, namun dengan cara yang tidak terlalu mencolok. Pendekatan tersebut memerlukan perencanaan dan desain yang signifikan.

Keamanan harus masuk sejak tahap desain

Perencanaan keamanan penerbangan ditekankan perlu dilakukan sejak awal proses desain agar langkah pengamanan mendukung operasi bandara yang aman tanpa menghambat efisiensi atau berubah menjadi kegiatan retrospektif yang mahal.

Desain keamanan memerlukan pemahaman atas ancaman dan risiko, serta lingkungan legislasi dan regulasi di lokasi bandara beroperasi. Proses ini juga perlu melibatkan para pemangku kepentingan, termasuk otoritas penerbangan negara, otoritas pengelola bandara, imigrasi dan bea cukai, penegak hukum, layanan darurat, operator maskapai besar, dan pihak terkait lainnya. Pendekatan kolaboratif dinilai membantu memastikan persyaratan dan spesifikasi operasional untuk langkah fisik, teknis, dan operasional menjadi kuat, sesuai tujuan, dan disepakati.

Dalam perancangannya, acuan yang disebut digunakan adalah ICAO Annex 17 Standards and Recommended Practices (SARPS) serta panduan dalam Manual Keamanan Penerbangan. Pertimbangan lain mencakup risiko yang perlu dimitigasi, ketersediaan solusi fisik dan teknologi di yurisdiksi tertentu, serta kemampuan dan kapasitas manajemen bandara dan tim keamanan untuk menjalankan operasi secara efisien.

Tantangan perbedaan penerapan standar global

Efektivitas manajemen keamanan penerbangan dapat berbeda di tingkat negara, regional, dan lokal. Variasi pemahaman, interpretasi, dan pelaksanaan perencanaan keamanan menimbulkan tantangan, khususnya bagi maskapai yang melayani banyak rute dengan pendekatan keamanan berbeda-beda. Perbedaan itu dapat muncul pada aspek penyaringan penumpang dan kargo, kontrol akses dari sisi darat ke sisi udara, pengelolaan area terbatas keamanan, serta keamanan pesawat dan awak selama proses perputaran.

ICAO bersama 193 negara anggotanya berupaya memastikan tingkat manajemen keamanan penerbangan yang seragam melalui penerapan SARPS. Meski demikian, masih ada negara dan otoritas bandara serta operator di negara tersebut yang memerlukan dukungan dalam pengembangan dan penerapan keamanan penerbangan yang efektif. Sejumlah faktor yang disebut memengaruhi antara lain lingkungan geopolitik, ekonomi, kendala hukum dan regulasi, serta sensitivitas budaya keamanan.

Rencana Keamanan Penerbangan Global ICAO

ICAO Global Aviation Security Program (GASeP) ditujukan untuk membantu negara-negara anggota dan pemangku kepentingan meningkatkan efektivitas keamanan penerbangan global dengan berfokus pada lima prioritas utama.

Setelah suatu negara menetapkan dan mengembangkan rencana keamanan penerbangan nasional, operator bandara dan maskapai dipandang perlu menyusun rencana keamanan bandara dan rencana keamanan maskapai yang efektif. Rencana tersebut diharapkan berbasis ancaman dan risiko serta didukung struktur, proses, prosedur, dan protokol organisasi yang memadai, agar dapat dijalankan oleh personel yang berkualifikasi dan terlatih.

Selain itu, diperlukan program pengendalian mutu serta jaminan internal dan eksternal yang kuat untuk memantau kinerja. Perencanaan juga harus mendukung operasi harian dan mencakup rencana kontinjensi serta manajemen krisis apabila terjadi insiden atau peristiwa keamanan, yang dikaitkan dengan manajemen kelangsungan bisnis, penegakan hukum, dan kegiatan tanggap darurat.

  • Topik: keamanan penerbangan, bandara, maskapai, standar global