BERITA TERKINI
Bank Dunia Pangkas Tipis Proyeksi Pertumbuhan Asia Timur-Pasifik, Konflik Timur Tengah Tekan Energi dan Modal

Bank Dunia Pangkas Tipis Proyeksi Pertumbuhan Asia Timur-Pasifik, Konflik Timur Tengah Tekan Energi dan Modal

Bank Dunia menilai ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai berdampak pada prospek ekonomi global, termasuk kawasan Asia Timur dan Pasifik. Kenaikan harga energi dan ketidakpastian yang berkepanjangan disebut menjadi faktor utama yang menekan proyeksi pertumbuhan.

Kepala Ekonom Kawasan Asia Timur dan Pasifik Bank Dunia, Aaditya Mattoo, mengatakan konflik tersebut telah menimbulkan biaya melalui kenaikan harga bahan bakar, serta berpengaruh pada kapasitas produksi minyak dan gas. Pernyataan itu disampaikan dalam Laporan Perkembangan Ekonomi Terkini Asia Timur dan Pasifik yang digelar secara daring, Rabu (8/4/2026).

Mattoo menilai konflik di Timur Tengah tidak dapat lagi dipandang sebagai gangguan sementara. Menurutnya, dampak telah merambat ke sektor energi—mulai dari minyak hingga gas—yang pada akhirnya meningkatkan biaya produksi di berbagai negara. Ia juga menyoroti bahwa genjatan senjata yang terjadi belum cukup meyakinkan untuk memberikan kepastian jangka panjang.

Bank Dunia menyebut kenaikan harga BBM menjadi salah satu jalur transmisi utama dampak konflik terhadap ekonomi global. Biaya energi yang lebih tinggi dinilai dapat menekan aktivitas industri dan memperlambat laju pertumbuhan, terutama di negara berkembang yang masih bergantung pada impor energi.

Proyeksi pertumbuhan direvisi turun

Meski tekanan meningkat, Bank Dunia menyatakan revisi proyeksi pertumbuhan untuk kawasan tidak bersifat drastis. Mattoo menyebut proyeksi pertumbuhan hanya diturunkan 0,1 persen dibanding perkiraan sebelumnya. Namun, ia juga menyampaikan bahwa pada sejumlah negara lain penyesuaian proyeksi dapat lebih dalam, bahkan hingga 4 persen.

Bank Dunia menilai, secara keseluruhan perubahan proyeksi masih tergolong moderat dan belum menunjukkan perlambatan yang signifikan. Mattoo menambahkan, jika konflik dapat segera berakhir, peluang pemulihan yang lebih cepat tetap terbuka.

Risiko arus keluar modal dan tekanan pasar keuangan

Dalam kesempatan yang sama, Mattoo menyoroti potensi keluarnya modal (capital outflow) dari negara berkembang, termasuk Indonesia, di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Ia mengatakan, ketika terjadi kekacauan, modal cenderung mengalir ke aset yang dianggap paling aman, sehingga menambah tekanan bagi negara berkembang dari sisi keuangan.

Menurutnya, dinamika pasar keuangan global saat ini cepat berubah. Arus modal dapat dengan mudah berpindah ke negara atau instrumen yang dipandang lebih stabil. Kondisi itu, kata Mattoo, telah terlihat di kawasan Asia Timur dan Pasifik, disertai peningkatan tekanan inflasi di sejumlah negara.

Pelemahan nilai tukar dan tantangan struktural

Mattoo juga menyinggung pelemahan nilai tukar sebagai salah satu indikator meningkatnya risiko. Ia memberi contoh baht Thailand yang disebut telah terdepresiasi sekitar 5 persen. Sementara itu, Indonesia dinilai masih menghadapi tantangan struktural terkait kedalaman pasar keuangan. Menurut Mattoo, pasar modal yang relatif dangkal membuat gejolak eksternal lebih mudah berdampak besar pada stabilitas ekonomi domestik, meski ia melihat ada peluang untuk memperdalam pasar tersebut agar ketangguhan meningkat.

Kenaikan spread obligasi dan peluang perbaikan

Mattoo menyebut situasi saat ini berpotensi mengarah pada kondisi krisis, meski masih dapat dikendalikan. Ia mencontohkan meningkatnya spread obligasi di negara seperti Indonesia dan Filipina yang disebut sudah naik sekitar 30 basis poin. Kenaikan spread ini mencerminkan meningkatnya persepsi risiko investor terhadap instrumen utang di negara berkembang dan dapat berujung pada biaya pendanaan yang lebih mahal bila tren berlanjut.

Meski demikian, Mattoo menyatakan harapan bahwa kondisi dapat membaik jika ketegangan geopolitik, khususnya konflik di Timur Tengah, mereda. Ia menilai penyelesaian konflik berpotensi membantu menstabilkan kembali arus modal dan menurunkan tekanan di pasar keuangan.