BERITA TERKINI
Bachtiar Nasir Peringatkan Dampak Global Jika AS Menyerang Iran

Bachtiar Nasir Peringatkan Dampak Global Jika AS Menyerang Iran

Ketua Umum Jalinan Alumni Timur Tengah Indonesia (JATTI) Bachtiar Nasir memperingatkan bahwa rencana atau wacana serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran berpotensi memicu krisis global. Menurut dia, dampaknya tidak hanya terbatas di Timur Tengah, karena eskalasi konflik di Teluk Persia dapat mengguncang sistem energi dan ekonomi dunia.

“Ini bukan konflik Amerika dan Iran semata. Ini soal kelangsungan ekonomi global dan hidup miliaran manusia,” kata Bachtiar kepada Tempo pada Rabu, 28 Januari 2026.

Bachtiar menilai meningkatnya pernyataan pejabat Amerika, manuver militer, serta tekanan diplomatik terhadap Iran menunjukkan risiko perang terbuka yang semakin nyata. Ia menegaskan, jika konflik pecah, dunia tidak berada dalam posisi netral karena dampaknya akan menjalar ke berbagai kawasan.

Salah satu titik paling rentan, menurut Bachtiar, adalah Selat Hormuz. Jalur strategis ini dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia dan juga porsi signifikan gas alam global. Kawasan tersebut menjadi penopang penting pasokan energi bagi Eropa, Asia Timur, dan Asia Selatan.

Namun, ia menilai ancaman terbesar bukan semata potensi penutupan Selat Hormuz, melainkan rapuhnya infrastruktur energi di kawasan Teluk. Ia mencontohkan serangan terhadap fasilitas minyak Abqaiq dan Khurais di Arab Saudi pada September 2019.

“Tanpa perang besar, tanpa invasi, hanya dengan serangan presisi, sekitar 5,7 juta barel minyak per hari lenyap dari pasar global. Itu hampir enam persen pasokan dunia,” ujarnya.

Peristiwa tersebut, kata Bachtiar, menunjukkan kerentanan sistem energi modern. Menurut dia, pertahanan militer paling canggih pun tidak menjamin perlindungan penuh bagi infrastruktur vital. Ia menilai dunia saat itu memilih menahan diri bukan karena tidak marah, melainkan karena khawatir eskalasi meluas.

Bachtiar memperkirakan, jika Iran diserang, dampaknya akan cepat terasa pada industri Eropa yang masih rapuh setelah krisis energi, rantai pasok Asia Timur, serta negara-negara berkembang yang paling cepat terdampak lonjakan harga pangan, listrik, dan transportasi.

“Harga minyak bisa melonjak ke level yang belum pernah dibayangkan. Bukan hanya karena pasokan berkurang, tetapi karena runtuhnya kepercayaan pasar, asuransi, dan logistik global,” kata Bachtiar.

Dalam skenario tersebut, ia menyebut resesi global hampir tidak terhindarkan. Pimpinan perkumpulan AQL itu juga menyoroti posisi Iran yang berada di pusat salah satu simpul paling sensitif dalam sistem ekonomi dunia. Menurut dia, tanpa senjata nuklir sekalipun, gangguan terhadap aliran energi di Teluk sudah cukup untuk mengguncang tatanan global, termasuk ekonomi Amerika Serikat.

“Serangan terhadap Iran bukan keputusan militer biasa. Itu pertaruhan terhadap stabilitas dunia,” ujarnya.

Karena itu, Bachtiar menekankan pentingnya akal sehat global dan diplomasi. Ia mengingatkan bahwa banyak perang besar dalam sejarah terjadi bukan karena kebutuhan mendesak, melainkan akibat kesalahan membaca dampak jangka panjang.

“Dalam konteks Iran, kesalahan itu bisa berujung pada krisis energi, kelaparan massal, dan runtuhnya sistem ekonomi dunia yang sudah rapuh,” kata dia.

Menurut alumnus Universitas Islam Madinah itu, dunia tidak membutuhkan perang baru di Timur Tengah. Ia menyerukan diplomasi yang serius, pengekangan diri, serta keberanian politik untuk mundur selangkah demi mencegah bencana bersama.

“Pertanyaannya bukan lagi apakah Amerika mampu menyerang Iran, tetapi apakah dunia mampu menanggung akibatnya. Jawabannya seharusnya jelas, tidak,” ujarnya.