Pasangan mata uang AUD/USD melanjutkan penguatan pada Rabu, mencatat kenaikan tiga hari beruntun dan menembus level tertinggi dalam lebih dari satu bulan pada paruh pertama perdagangan sesi Eropa. Pergerakan ini juga menandai tren positif pada tujuh dari delapan hari terakhir.
Penguatan didorong membaiknya sentimen risiko global seiring munculnya harapan bahwa perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran dapat berlanjut. Optimisme tersebut turut mengangkat Dolar Australia, yang cenderung sensitif terhadap perubahan sentimen pasar. Namun, kenaikan AUD/USD dinilai berpotensi tertahan oleh pemulihan moderat Dolar AS.
Presiden AS Donald Trump menyatakan negosiasi yang sempat terhenti dengan Iran dapat dilanjutkan dalam beberapa hari. Sekretaris Jenderal PBB António Guterres juga mengatakan pada Selasa bahwa kelanjutan perundingan AS-Iran sangat mungkin terjadi. Meski belum ada konfirmasi resmi, pernyataan-pernyataan tersebut memicu harapan adanya upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik. Wakil Presiden AS JD Vance turut menyampaikan optimisme yang berhati-hati dan mengindikasikan Washington mengejar kesepakatan yang lebih luas untuk merestrukturisasi integrasi ekonomi Iran dengan dunia.
Sentimen positif terlihat di pasar ekuitas dan ikut menopang AUD. Dari sisi kebijakan moneter, Deputi Gubernur Reserve Bank of Australia (RBA) Andrew Hauser memperingatkan bahwa inflasi tinggi dan kapasitas pasokan yang terbatas meningkatkan risiko skenario stagflasi jika guncangan energi berlanjut. Ia menambahkan RBA berfokus mencegah kenaikan ekspektasi inflasi jangka menengah, yang memperkuat pandangan pasar mengenai potensi pengetatan kebijakan lebih lanjut pada 2026. Penilaian pasar saat ini menunjukkan peluang 65% kenaikan suku bunga pada Mei.
Perkembangan tersebut menegaskan perbedaan arah dengan Amerika Serikat, di mana peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve dinilai menurun. Data Indeks Harga Produsen (IHP) AS yang lebih rendah dari perkiraan pada Selasa meredakan kekhawatiran dampak inflasi dari lonjakan harga energi akibat perang, sehingga menekan ekspektasi kebijakan The Fed yang lebih hawkish. Penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS turut membebani USD dan mendukung prospek penguatan AUD/USD dalam jangka pendek.
Meski demikian, ketidakpastian terkait Selat Hormuz masih menjadi faktor yang dapat membatasi penguatan. Duta Besar Iran untuk PBB menyebut blokade AS yang mulai berlaku pada Senin sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan Teheran. Selain itu, Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Iran menyatakan akan membalas, sehingga risiko geopolitik tetap tinggi. Kondisi ini membantu USD memantul tipis dari level terendah sejak awal Maret yang tersentuh pada Selasa, dan berpotensi menahan minat beli lanjutan pada AUD/USD.
Dari sisi teknikal, penembusan di atas level 0,7100 dipandang memperkuat posisi pembeli, dengan latar belakang rebound akhir Maret dari area Simple Moving Average (SMA) 100-hari. Indikator MACD disebut berada di wilayah positif dan menguat, sementara Relative Strength Index (RSI) berada di sekitar 63 dan masih condong bullish tanpa mengindikasikan kondisi jenuh beli. Area SMA 100-hari di sekitar 0,6880 dinilai menjadi penopang utama; penurunan yang tegas di bawah level tersebut diperlukan untuk mengubah prospek positif yang terbentuk saat ini.