Jakarta — Kantor Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) pada KBRI Beijing, KBRI Seoul, dan KBRI Tokyo memperluas jejaring kerja sama pendidikan, riset, dan kebudayaan di kawasan Asia Timur. Upaya tersebut dipaparkan dalam forum Webinar Series Atdikbud & Wadetap RI-UNESCO yang menekankan peran pendidikan sebagai instrumen diplomasi soft power Indonesia.
Dalam siaran pers gabungan KBRI Beijing, Seoul, dan Tokyo, Atdikbud KBRI Beijing menyampaikan bahwa Pemerintah Indonesia melalui Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) membuka akses ke universitas mitra di China melalui skema co-funding. Skema ini memungkinkan mahasiswa Indonesia memperoleh pendanaan untuk menempuh pendidikan.
Selain itu, Pemerintah China menawarkan peluang beasiswa, salah satunya Chinese Government Scholarship (CGS) yang mencakup biaya kuliah penuh, akomodasi, tunjangan hidup, serta asuransi kesehatan. Mulai 2025, pendaftar beasiswa CGS jenjang sarjana (S1) diwajibkan memenuhi persyaratan HSK (Tes Kemampuan Bahasa Mandarin Internasional) dan ujian CSCA (China Scholastic Competency Assessment).
Dalam kerja sama pendidikan RI–China, kolaborasi juga disebut terus diperkuat melalui program pertukaran pelajar, penelitian bersama, rumah budaya, dan pengembangan program vokasi.
Sementara itu, Atdikbud KBRI Seoul menyebut terdapat sekitar 2.700 mahasiswa Indonesia di Korea Selatan, mulai dari jenjang diploma hingga doktoral. Beasiswa utama yang ditawarkan Korea Selatan adalah Global Korea Scholarship (GKS) dari Kementerian Pendidikan Korea yang dikelola oleh National Institute for International Education (NIIED).
Atdikbud KBRI Seoul juga menyoroti pesatnya kemajuan pendidikan Korea Selatan, yang tercermin dari hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022. Dalam penilaian tersebut, Korea Selatan menempati peringkat satu untuk matematika dan membaca, serta peringkat dua untuk sains dari 37 negara OECD.
Peluang studi di Korea Selatan disebut semakin terbuka seiring pencanangan Korea 300K Project yang menargetkan 300.000 mahasiswa internasional. Selain beasiswa, tersedia pula pelatihan seperti kursus bagi guru terkait pemanfaatan teknologi digital, program pertukaran guru, serta kerja sama sister school.
Dari Jepang, Atdikbud KBRI Tokyo menyampaikan adanya berbagai peluang beasiswa untuk jenjang sarjana hingga pascadoktoral. Dua sumber utama pembiayaan meliputi beasiswa Pemerintah Jepang melalui program MEXT yang dapat diakses melalui Kedutaan Besar Jepang di Jakarta, serta beasiswa Pemerintah Indonesia seperti LPDP. Selain itu, tersedia beasiswa dari perguruan tinggi dan lembaga donor.
Atdikbud KBRI Tokyo juga menekankan kuatnya keterkaitan antara perguruan tinggi, industri, dan pemerintah di Jepang melalui konsep triple helix. Perguruan tinggi terlibat dalam riset dan pengembangan industri dengan dukungan pendanaan dari lembaga seperti Japan Society for the Promotion of Science (JSPS), Japan Science and Technology Agency (JST), dan New Energy and Industrial Technology Development Organization (NEDO). Dalam konteks ini, peneliti Indonesia disebut memiliki peluang untuk menjalin kolaborasi dengan peneliti Jepang guna mengakses pendanaan dari lembaga-lembaga tersebut.