Presiden OIC Youth Indonesia, Astrid Nadya Rizqita, menjadi delegasi Republik Indonesia sekaligus pembicara dalam 9th Austria-Indonesia Interfaith and Intercultural Dialogue (IAIID) yang berlangsung pada 25–30 April 2026 di Graz dan Wina, Austria. Forum dialog internasional lintas agama dan budaya ini merupakan kerja sama Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia dengan Federal Ministry for European and International Affairs (BMEIA) Austria, yang sejak 2010 mendorong dialog lintas iman dan budaya sebagai fondasi toleransi global.
Dalam forum bilateral tersebut, Astrid menyampaikan perspektif pemuda Indonesia—yang disebutnya berjumlah lebih dari 65 juta—sebagai aktor penting dalam penguatan toleransi, diplomasi digital, dan pencegahan radikalisasi. Ia tampil dalam dua agenda utama, yakni sesi publik bertema “Youth Engagement in Intercultural and Interfaith Dialogue” di Rathaus Graz pada 27 April, serta konferensi internasional “State and Civil Society: Strengthening Social Cohesion” di University of Vienna pada 29 April 2026.
Rangkaian kegiatan IAIID melibatkan sejumlah pemangku kepentingan, termasuk Kementerian Agama Republik Indonesia, Kultusamt Austria, serta institusi akademik seperti University of Graz dan University of Vienna. Delegasi Indonesia dipimpin Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri RI R. Heru Hartanto Subolo, bersama Direktur Diplomasi Publik Kemlu RI Ani Nigeriawati, serta Duta Besar RI untuk Austria H.E. Damos Dumoli.
Delegasi Indonesia juga diikuti unsur pemerintah, akademisi, dan masyarakat sipil. Dari Kementerian Agama RI hadir M. Adib Abdushomad selaku Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB). Dari kalangan akademisi dan lembaga riset, turut bergabung Asep Saefuddin Jahar (Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), Li Edi Ramawijaya Putra (Rektor STAB Sriwijaya), Samsul Maarif (Direktur Indonesian Consortium for Religious Studies), serta Thomhert S. Siadari dari Telkom University. Sementara dari unsur masyarakat sipil, hadir Matius Ho yang mewakili Leimena Institute.
Selain sesi diskusi, agenda forum juga mencakup kunjungan lintas iman. Di Graz, delegasi mengunjungi Islamic Center Graz dan Graz Cathedral, serta berdialog dengan Uskup Auksilier Johannes Freitag. Di Wina, delegasi bertemu diaspora Indonesia di KBRI Wina dan melakukan kunjungan akademik ke Fakultas Religion and Transformation di University of Vienna untuk menjajaki kerja sama studi agama dan transformasi sosial.
Dalam pemaparannya di Graz, Astrid menjelaskan posisi OIC Youth Indonesia sebagai organisasi yang menaungi 30 organisasi kepemudaan Islam. Ia menyebut keterlibatan organisasinya dalam sejumlah forum internasional, seperti Geneva Youth Call, ASEAN+ Youth Summit, dan forum pemuda PBB. Astrid juga memaparkan program OIC Youth Indonesia yang mencakup tiga pilar, yakni kepemudaan umum, kampus, dan pesantren, di antaranya Borneo Youth Camp, Global Madani Outreach, serta Model OIC yang ditujukan untuk melatih mahasiswa menjadi diplomat muda.
Untuk ranah pesantren, Astrid mencontohkan Santri Peace Academy di Bali sebagai program yang menanamkan nilai toleransi dan diplomasi sejak dini. Ia menekankan pembentukan identitas anak muda berlangsung jauh sebelum memasuki perguruan tinggi. “Kami memulai dari sekolah dan pesantren, karena identitas seorang muda terbentuk jauh sebelum mereka masuk universitas,” ujar Astrid.
Dalam sesi di Wina, Astrid menyoroti pentingnya ekosistem pelatihan kepemudaan berbasis nilai kebangsaan yang dikembangkan bersama Lembaga Ketahanan Nasional dan Kementerian Pertahanan RI. Ia menjelaskan program Pemantapan Nilai-Nilai Kebangsaan yang berbentuk pelatihan intensif selama satu pekan untuk membekali pemuda dengan pemahaman Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan ketahanan nasional.
Ia juga memaparkan program Bela Negara yang berlangsung dua hingga tiga pekan secara imersif tanpa pelatihan senjata, dengan fokus pada kedisiplinan, tanggung jawab kewargaan, dan penolakan terhadap kekerasan. Menurut Astrid, keterlibatan organisasi kepemudaan dalam forum semacam ini mencerminkan upaya yang bergerak dari tingkat akar rumput menuju dampak kebijakan. “Kami adalah payung bagi organisasi kepemudaan Islam di Indonesia. Kami tidak meminta untuk diinstitusionalisasikan, tetapi pemerintah melihat kami sudah menjadi jembatan karena selama ini upaya kami bottom up. Inilah makna from ‘Dialogue to Policy’ yang sedang terjadi sekarang,” katanya.
Di sela agenda resmi, Astrid juga memperluas jejaring dengan organisasi pemuda Muslim Austria, termasuk Muslimische Jugend Österreich dan Muslimische Pfadfinderinnen. Ia menilai diplomasi lintas iman dapat menjadi instrumen untuk memperkuat kohesi sosial sekaligus membuka kolaborasi yang menjangkau isu pendidikan hingga pencegahan radikalisme.
OIC Youth Indonesia menyatakan komitmen untuk menindaklanjuti peluang kerja sama dengan berbagai organisasi kepemudaan di Austria sebagai bagian dari kontribusi pemuda dalam memperkuat diplomasi bilateral Indonesia di tingkat internasional.