Asosiasi Kopi Indonesia (ASKI) mencatat potensi permintaan ekspor kopi mencapai 1.257 ton per tahun dalam ajang Melbourne International Coffee Expo (MICE) 2026 yang berlangsung pada 24–26 Maret 2026. Capaian tersebut diperoleh melalui keikutsertaan ASKI dalam pameran yang juga menjadi bagian dari misi diplomasi ekonomi bersama Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Melbourne.
Ketua Umum DPP ASKI, Irsan, menilai besarnya minat pasar internasional menjadi sinyal positif bagi posisi tawar Indonesia. Ia menyebut kepercayaan mitra global terhadap kualitas dan aspek keberlanjutan kopi Indonesia terus menguat.
“Permintaan sebesar 1.257 ton per tahun ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan pasar global terhadap kopi Indonesia. Ini adalah langkah strategis bagi kita untuk naik kelas, dari sekadar pengekspor komoditas menjadi pemain utama dalam rantai nilai kopi dunia,” kata Irsan dalam siaran pers di Jakarta, Minggu (12/4/2026).
Dalam MICE 2026, ASKI mengusung tema Indonesian Coffee Origin dengan membawa ragam kopi unggulan dari berbagai daerah, mulai Aceh hingga Sulawesi. Selain menonjolkan kualitas rasa, ASKI juga menekankan komitmen terhadap aspek lingkungan yang menjadi perhatian pasar global.
Di paviliun Indonesia, ASKI memperkenalkan tiga jenama, yakni Gravfarm Indonesia, Canaya Geothermal Coffee Producer (binaan Pertamina Geothermal Energy), dan Bang Raden Coffee. Kehadiran Canaya Geothermal Coffee disebut menjadi salah satu sorotan karena menampilkan penggunaan energi terbarukan geotermal dalam proses produksi kopi.
ASKI menilai pendekatan tersebut memperkuat penerapan prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance), yang disebut menjadi standar penting di pasar kopi Australia dan Eropa.
ASKI juga menyampaikan apresiasi kepada KJRI Melbourne serta Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Canberra yang memfasilitasi pertemuan pelaku industri dengan calon pembeli. “Dukungan ini sangat strategis dalam memperkuat diplomasi kopi Indonesia di tingkat global,” ujar Irsan.
Ke depan, ASKI menyatakan komitmennya untuk mengawal potensi permintaan tersebut agar dapat terealisasi menjadi ekspor. Fokus asosiasi diarahkan pada penguatan ekosistem kopi dari hulu ke hilir, termasuk memastikan produktivitas petani lokal mampu memenuhi standar ketat pasar internasional.