BERITA TERKINI
AS Menuduh China Menimbun Minyak Saat Perang dan Menilai Mitra Global Tidak Dapat Diandalkan

AS Menuduh China Menimbun Minyak Saat Perang dan Menilai Mitra Global Tidak Dapat Diandalkan

Amerika Serikat menuduh China menimbun minyak pada masa perang, sekaligus menyebut sejumlah mitra global tidak dapat diandalkan. Tuduhan tersebut muncul di tengah dinamika pasar energi yang dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari pergerakan pasokan hingga perkembangan ekonomi global.

Dalam perkembangan lain, stok minyak mentah Amerika Serikat dilaporkan mencatat kenaikan mingguan terbesar dalam 3,5 tahun. Data ini menjadi salah satu indikator yang diperhatikan pelaku pasar untuk membaca keseimbangan pasokan dan permintaan di negara konsumen minyak terbesar dunia itu.

Di tingkat global, International Energy Agency (IEA) memperingatkan bahwa gangguan di Selat Hormuz berpotensi memperparah defisit pasokan minyak dunia. Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis bagi distribusi minyak, sehingga setiap gangguan dapat berdampak luas pada ketersediaan dan harga energi.

Dari sisi ekonomi makro, inflasi Amerika Serikat dilaporkan naik secara moderat pada Juli. Meski begitu, kondisi ekonomi dinilai belum sepenuhnya aman dari berbagai risiko, yang dapat ikut memengaruhi sentimen pasar, termasuk pasar komoditas energi.

Sementara itu di dalam negeri, PT Pertamina Lubricants menyampaikan bahwa fluktuasi harga oli domestik terdampak oleh pergerakan harga minyak global. Perubahan harga minyak mentah di pasar internasional kerap berimbas pada biaya bahan baku dan struktur harga produk turunan di tingkat domestik.

Masih dari sektor industri, Selatox dilaporkan membangun pabrik toksin botulinum di Cikarang dengan kapasitas mencapai 6,5 juta vial. Di sisi lain, Pertamina Lubricants disebut menguasai sekitar 36% pasar pelumas domestik dan telah mengekspor produknya ke 16 negara.