Pemerintah Amerika Serikat dilaporkan mengirimkan proposal perdamaian berisi 15 poin kepada Iran untuk meredakan eskalasi militer yang telah berlangsung selama empat pekan di Timur Tengah. Proposal itu disampaikan melalui Pakistan dan disebut sebagai salah satu upaya diplomasi paling serius di tengah gangguan pasokan energi yang berdampak luas secara global.
Menurut laporan The New York Times, draf tersebut memuat langkah-langkah terkait penghentian program nuklir dan rudal balistik Iran, serta jaminan keamanan maritim di Selat Hormuz. Jalur strategis itu dilaporkan berada dalam kendali efektif Iran, sehingga menghambat arus sekitar 20% pasokan minyak dunia.
Presiden AS Donald Trump menyatakan optimistis bahwa komunikasi dengan Teheran menunjukkan kemajuan. Ia mengklaim telah memperoleh sejumlah “konsesi penting” dari Iran terkait isu energi non-nuklir dan akses di Selat Hormuz.
“Kami sedang dalam tahap negosiasi saat ini. Kami berbicara dengan orang-orang yang tepat di Iran, dan mereka sangat ingin mencapai kesepakatan,” kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih, Rabu (25/3/2026).
Namun, pernyataan tersebut dibantah oleh pihak Iran. Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf menegaskan tidak ada pembicaraan langsung dengan Washington dan menyebut laporan terkait sebagai “berita palsu”.
Sementara itu, sumber Channel 12 Israel menyebut Washington mendorong gencatan senjata selama satu bulan untuk membahas rencana 15 poin tersebut. Beberapa poin utama yang disebutkan mencakup pembongkaran total infrastruktur nuklir Iran, penghentian dukungan militer terhadap kelompok proksi di kawasan, serta pembukaan kembali Selat Hormuz untuk lalu lintas internasional secara bebas.
Pakistan disebut memainkan peran sebagai mediator. Kepala Angkatan Darat Pakistan Marsekal Lapangan Syed Asim Munir disebut menjadi penghubung yang menjembatani kepentingan Washington dan Teheran. Islamabad juga menyatakan kesiapan menjadi tuan rumah perundingan apabila kedua pihak menyepakati format pembicaraan.
Di sisi lain, konflik yang pecah sejak serangan udara AS-Israel pada 28 Februari dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Serangan balasan Iran berupa drone dan rudal ke wilayah Israel serta negara-negara Teluk disebut ikut melumpuhkan pasar penerbangan global dan memicu lonjakan harga bahan bakar.
Trump sebelumnya mengumumkan jeda serangan selama lima hari terhadap infrastruktur energi Iran sebagai bentuk itikad baik. Meski demikian, posisi Iran di Selat Hormuz masih menjadi faktor penentu. Teheran dilaporkan hanya mengizinkan “kapal non-musuh” melintas dengan koordinasi ketat, kebijakan yang terus menekan stabilitas ekonomi dunia.

