Upaya meredakan ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran memasuki tahap lanjutan. Setelah putaran pertama perundingan pada awal April, kedua negara dikabarkan bersiap melanjutkan dialog teknis di Islamabad, Pakistan, paling cepat pada Senin, 20 April 2026.
Informasi tersebut disampaikan seorang sumber pemerintah Pakistan pada Sabtu, 18 April 2026, dengan syarat identitasnya tidak dipublikasikan. Permintaan kerahasiaan itu menunjukkan proses negosiasi masih berlangsung dalam situasi sensitif.
Pertemuan teknis ini dipandang penting karena akan menjadi penentu kemampuan kedua pihak dalam merumuskan draf kesepakatan yang lebih konkret. Dalam beberapa pekan terakhir, ketegangan AS–Iran disebut telah memengaruhi stabilitas kawasan Timur Tengah, terutama terkait pasokan energi global.
Sumber yang sama menyebut Islamabad diproyeksikan menjadi panggung utama kelanjutan proses tersebut. Setelah draf kesepakatan rampung, para pemimpin dunia, termasuk Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, dikabarkan siap hadir langsung untuk menandatangani dokumen itu.
Jika rencana itu terwujud, Pakistan tidak hanya menjadi tuan rumah, tetapi juga dipandang memainkan peran penting dalam menjembatani dua pihak yang selama ini berada di posisi berseberangan.
Meski demikian, proses negosiasi dinilai masih berpotensi menghadapi hambatan. Riwayat perundingan AS–Iran kerap berjalan alot dan diwarnai tarik ulur kepentingan. Komunikasi intensif yang disebut berlangsung sejak 12 April melalui jalur Islamabad dinilai memberi harapan, tetapi belum menjadi jaminan kesepakatan dapat dicapai dengan mudah.
Di tengah perkembangan diplomasi itu, Iran juga mengambil langkah yang dipandang positif dengan membuka kembali Selat Hormuz untuk kapal komersial. Selat Hormuz merupakan salah satu jalur utama perdagangan energi dunia, sehingga setiap perubahan situasi di kawasan tersebut berpotensi berdampak luas, termasuk pada harga energi dan kebutuhan sehari-hari masyarakat di berbagai negara.