Islamabad, ibu kota Pakistan, berada dalam pengamanan ketat menjelang pertemuan tingkat tinggi antara Amerika Serikat dan Iran yang dijadwalkan dimulai pada Sabtu pagi, 11 April 2026. Langkah pengamanan ini dilakukan setelah enam pekan ketegangan militer yang mengganggu jalur energi global dan mendorong kenaikan harga minyak dunia.
Perundingan akan dipusatkan di Hotel Serena, yang berada di area steril dalam Zona Merah Islamabad dan berdekatan dengan kantor kementerian luar negeri. Untuk meminimalkan pergerakan massa di sekitar lokasi pertemuan, pemerintah Pakistan menetapkan 9 dan 10 April sebagai hari libur publik.
Dari pihak Amerika Serikat, delegasi dipimpin Wakil Presiden JD Vance, didampingi utusan khusus Steve Witkoff serta Jared Kushner sebagai representasi langsung Gedung Putih. Sementara Iran mengutus Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi untuk membawa kepentingan Teheran dalam pembahasan.
Negosiasi dirancang berlangsung melalui komunikasi tidak langsung. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif akan memfasilitasi pertukaran pesan dengan metode “jemput bola” di ruangan terpisah. Pejabat Pakistan bertindak sebagai penyampai pesan antara kedua delegasi, dengan tujuan menghindari konfrontasi langsung yang dikhawatirkan dapat menghambat jalannya diskusi.
Pakistan dipilih sebagai mediator karena dinilai memiliki hubungan diplomatik yang unik dengan Washington maupun Teheran di tengah situasi yang memanas. Status Pakistan sebagai sekutu non-Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) tanpa pangkalan militer Amerika turut disebut memberi posisi tawar yang lebih netral dan dapat diterima oleh pihak Iran.
Agenda perundingan mencakup sepuluh poin usulan Iran, termasuk pengawasan Selat Hormuz, serta tuntutan Amerika Serikat terkait penyerahan cadangan uranium. Fokus utama pembahasan adalah upaya memperpanjang gencatan senjata dua minggu yang disebut berada di ambang keruntuhan.
Namun, peluang terobosan cepat dinilai menghadapi hambatan besar, terutama ketidakpercayaan yang mendalam dan eskalasi serangan di Lebanon. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyampaikan peringatan terkait posisi Amerika Serikat dalam konflik ini. “Amerika Serikat harus memilih antara gencatan senjata atau kelanjutan perang melalui Israel,” ucap Araghchi, dikutip dari Al Jazeera, Kamis, 9 April 2026.
Meski kesepakatan final disebut sulit dicapai dalam waktu dekat, pertemuan di Islamabad dipandang sebagai langkah penting untuk mencegah meluasnya perang terbuka. Perhatian internasional kini tertuju pada apakah jalur diplomasi di Islamabad mampu meredam ketegangan yang kian kritis di Timur Tengah.