BERITA TERKINI
AS dan China Tinjau Implementasi Gencatan Senjata Dagang dalam Perundingan di Paris

AS dan China Tinjau Implementasi Gencatan Senjata Dagang dalam Perundingan di Paris

Amerika Serikat dan China melanjutkan dialog ekonomi dengan menggelar perundingan tingkat tinggi di Paris, Prancis, untuk meninjau sejumlah isu yang belum terselesaikan dalam perjanjian gencatan senjata perdagangan. Pembicaraan ini juga dipandang sebagai bagian dari upaya membuka jalan bagi rencana kunjungan Presiden AS Donald Trump ke Beijing untuk bertemu Presiden China Xi Jinping pada akhir Maret.

Menurut Reuters, para pejabat ekonomi senior kedua negara telah menyelesaikan hari pertama dari rangkaian pembicaraan dua hari pada 15 Maret waktu setempat. Pertemuan dipimpin Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng.

Sejumlah topik utama diperkirakan menjadi fokus negosiasi, termasuk penyesuaian tarif AS, arus mineral tanah jarang dan magnet produksi China ke pelanggan AS, kontrol ekspor AS atas teknologi canggih, serta pembelian produk pertanian AS oleh China.

Kedua delegasi bertemu lebih dari enam jam di kantor pusat Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) di Paris. Juru bicara Departemen Keuangan AS menyebut perundingan dijadwalkan berlanjut pada pagi hari 16 Maret.

Perwakilan Perdagangan AS Jamieson Greer, yang turut serta dalam perundingan, menyatakan Washington ingin memastikan stabilitas dalam hubungan AS–China. Pertemuan ini juga melibatkan negosiator perdagangan China Li Chenggang.

Dialog di Paris melanjutkan rangkaian pertemuan di sejumlah kota Eropa pada tahun lalu yang bertujuan meredakan ketegangan perdagangan antara dua ekonomi terbesar dunia. Namun, sejumlah analis dari AS dan China menilai peluang terjadinya terobosan besar dalam perundingan kali ini relatif kecil, mengingat waktu persiapan yang terbatas dan perhatian Washington yang juga tersita pada konflik AS–Israel dengan Iran.

Ekonom China di Center for Strategic and International Studies (CSIS) Scott Kennedy menilai sasaran minimum dari kedua pihak adalah menjaga jalur komunikasi tetap terbuka guna menghindari kegagalan perundingan dan mencegah meningkatnya ketegangan baru. Ia juga berpendapat Trump mungkin menginginkan komitmen besar dari China, seperti pemesanan pesawat Boeing baru serta peningkatan impor gas alam cair dan kedelai dari AS, namun hal itu berpotensi menuntut konsesi dari Washington terkait kontrol ekspor.

Selain isu perdagangan, konflik di Iran disebut berpeluang ikut dibahas, terutama terkait lonjakan harga minyak dan risiko penutupan Selat Hormuz—jalur pelayaran yang dilalui China untuk menerima sekitar 45% impor minyaknya. Sebelumnya, Scott Bessent mengumumkan pencabutan sanksi selama 30 hari untuk memungkinkan penjualan minyak Rusia yang terjebak di kapal tanker di lepas pantai guna menambah pasokan.

Di tengah meningkatnya konflik di Timur Tengah, Donald Trump juga menyerukan negara-negara lain membantu melindungi pelayaran melalui Selat Hormuz, setelah Washington menyerang target militer Iran di Pulau Kharg—pusat ekspor minyak utama—dan Iran mengancam akan membalas.

Perundingan di Paris juga diarahkan untuk meninjau pelaksanaan komitmen dalam perjanjian gencatan senjata perdagangan Oktober 2025 yang diumumkan Trump dan Xi Jinping di Busan, Korea Selatan. Kesepakatan itu mencegah eskalasi ketegangan besar dengan mengurangi sebagian tarif AS atas impor dari China serta menangguhkan sementara kontrol ketat Beijing terhadap ekspor logam tanah jarang selama satu tahun.

Perjanjian Busan juga menghentikan sementara perluasan “daftar hitam” AS terhadap perusahaan China yang dilarang membeli barang berteknologi tinggi Amerika, termasuk peralatan manufaktur semikonduktor. Di sisi lain, China berkomitmen membeli 12 juta ton kedelai AS untuk tahun panen 2025 dan 25 juta ton untuk tahun panen 2026, dimulai pada panen musim gugur.

Sejumlah pejabat AS, termasuk Scott Bessent, menyatakan China sejauh ini telah memenuhi komitmen dalam kesepakatan tersebut, termasuk pembelian kedelai yang disebut sudah memenuhi target awal. Sementara itu, kantor berita pemerintah China, Xinhua, menilai kemajuan “signifikan” dalam kerja sama ekonomi AS–China dapat membantu memulihkan kepercayaan pada perekonomian global yang dinilai semakin rapuh.