Nasib bisnis TikTok di Amerika Serikat disebut semakin jelas setelah Amerika Serikat (AS) dan China dikabarkan meneken kesepakatan divestasi pada Kamis (22/1/2026). Seorang pejabat Gedung Putih menyatakan kedua pihak telah menandatangani dokumen pemisahan bisnis TikTok di AS, yang selanjutnya akan diambil alih oleh perusahaan patungan baru di Amerika.
Dengan kesepakatan ini, operasional TikTok di AS tidak lagi sepenuhnya bergantung pada ByteDance, perusahaan induk TikTok yang berbasis di China. Namun, rincian lengkap kesepakatan tersebut belum diungkapkan ke publik.
Sumber internal yang dikutip media Semafor menyebutkan proses kesepakatan itu diperkirakan rampung dalam minggu ini. Divestasi ini berkaitan dengan undang-undang Protecting Americans from Foreign Adversary Controlled Applications Act, yang mewajibkan ByteDance menjadikan TikTok perusahaan mandiri di AS atau menjualnya kepada perusahaan non-China.
Berdasarkan memo internal CEO TikTok Shou Chew yang terungkap pada akhir 2025, bisnis TikTok di AS akan dijalankan oleh konsorsium yang dipimpin perusahaan teknologi Oracle dan firma investasi Silver Lake. Chew juga menyebut ByteDance telah menandatangani perjanjian pembentukan entitas baru untuk memastikan kelangsungan bisnis TikTok di AS.
Dalam ketentuan perjanjian tersebut, ByteDance disebut akan memegang hampir 20 persen saham di entitas baru. Sementara itu, konsorsium yang dipimpin Oracle disebut akan menguasai 15 persen saham. Investor lain yang disebut masuk dalam konsorsium antara lain MGX (perusahaan investasi Uni Emirat Arab yang berfokus pada AI), Michael Dell, serta Lachlan dan Rupert Murdoch.
Nilai kesepakatan divestasi TikTok di AS belum diumumkan. Namun, Wakil Presiden AS JD Vance memproyeksikan nilai TikTok AS sekitar 14 miliar dollar AS, atau sekitar Rp 235,5 triliun.
Selain itu, arah pengelolaan algoritma TikTok di AS ke depan masih belum sepenuhnya jelas. Laporan sebelumnya menyebut konsorsium Oracle dan mitra akan menerima salinan kode algoritma TikTok dari ByteDance, untuk kemudian ditinjau dan dilatih ulang agar sesuai dengan pengguna di AS.
Memo internal akhir 2025 juga menyebut entitas baru akan mengendalikan perlindungan data, moderasi konten, hingga keamanan algoritma. Meski demikian, hingga kini Departemen Keuangan AS, Gedung Putih, Oracle, dan Silver Lake belum memberikan tanggapan. Juru bicara Kedutaan Besar China untuk AS juga tidak merinci lebih jauh, dan hanya menyatakan posisi China terkait TikTok tetap konsisten dan jelas.

