BERITA TERKINI
AS dan China Sepakat Turunkan Tarif Selama 90 Hari, Trump Klaim Ada Cetak Biru Kesepakatan Dagang

AS dan China Sepakat Turunkan Tarif Selama 90 Hari, Trump Klaim Ada Cetak Biru Kesepakatan Dagang

Amerika Serikat (AS) dan China sepakat mencabut sebagian tarif besar atas barang masing-masing selama 90 hari. Kebijakan penurunan tarif ini mulai berlaku setelah tengah malam waktu Washington pada Rabu (14/5/2025) dini hari waktu setempat, menyusul perundingan kedua negara di Jenewa, Swiss, pada akhir pekan lalu.

Presiden AS Donald Trump menyatakan Washington kini memiliki “cetak biru” untuk kesepakatan perdagangan dengan China. Dalam wawancara yang disiarkan Selasa waktu setempat oleh Fox News, Trump mengatakan kerangka kesepakatan itu akan “sangat, sangat kuat” dan menyoroti aspek keterbukaan ekonomi China bagi bisnis AS.

“Kami memiliki batasan kesepakatan yang sangat, sangat kuat dengan China. Namun, bagian yang paling menarik dari kesepakatan itu... adalah keterbukaan China terhadap bisnis AS,” ujar Trump dalam wawancara tersebut saat berada di Air Force One dalam perjalanan menuju Timur Tengah, dikutip AFP. Ia menambahkan AS berupaya “membuka China”, tanpa merinci lebih lanjut.

Kesepakatan ini menjadi titik balik sementara setelah periode ketegangan dagang yang meningkat tajam. Kebijakan tarif luas yang diterapkan Trump sebelumnya mengguncang perdagangan internasional, dengan China menjadi pihak yang paling terdampak. Beijing merespons dengan tarif balasan, membuat pungutan di kedua sisi melampaui 100%.

Setelah tekanan meningkat dan kerugian besar melanda pasar ekuitas serta dunia usaha, negosiasi akhirnya berlangsung di Jenewa untuk mencari jalan keluar dari kebuntuan.

Dalam kesepakatan terbaru, AS setuju menurunkan tarif atas barang-barang China menjadi 30%. Sementara itu, China akan menurunkan tarifnya menjadi 10%, turun lebih dari 100 poin persentase dari level sebelumnya.

Penurunan ini menandai meredanya ketegangan yang sempat mendorong tarif AS atas impor dari China mencapai 145% dan bahkan setinggi 245% untuk beberapa produk.

Meski demikian, sejumlah faktor dinilai masih menyisakan risiko eskalasi baru. Tarif tambahan AS tetap lebih tinggi karena mencakup pungutan 20% yang dikaitkan dengan keluhan Trump mengenai ekspor bahan kimia dari China yang disebut digunakan untuk memproduksi fentanil.

Washington telah lama menuduh China membiarkan perdagangan fentanil, sementara pemerintah Presiden Xi Jinping membantah tuduhan tersebut. AS menyatakan melihat ruang kemajuan dalam isu itu, namun pada Selasa China memperingatkan Washington agar berhenti menjelek-jelekkan dan menyalahkan.

Analis juga mengingatkan bahwa kemungkinan tarif kembali diberlakukan setelah masa 90 hari berakhir dapat menambah ketidakpastian. “Pengurangan tarif lebih lanjut akan sulit dan risiko eskalasi baru tetap ada,” kata Kepala Ekonom The Economist Intelligence Unit, Yue Su.

Perselisihan tarif yang berkepanjangan turut menekan perusahaan-perusahaan AS yang bergantung pada manufaktur China. De-eskalasi sementara ini diperkirakan hanya meredakan tekanan sebagian.

Dari pihak China, pejabat Beijing mengakui perekonomian mereka ikut terdampak ketidakpastian perdagangan, di tengah tekanan lain seperti krisis properti yang berkepanjangan dan lemahnya belanja konsumen. “Kedua belah pihak telah mengalami banyak kesulitan ekonomi dan mereka masih dapat bertahan sedikit lebih lama lagi,” kata asisten profesor Universitas Teknologi Nanyang Singapura, Dylan Loh.