Amerika Serikat membuka jalur diplomasi dengan Iran di tengah lonjakan biaya perang dan tekanan pasar global, meski pada saat yang sama tetap menambah kekuatan militernya di kawasan Timur Tengah.
Presiden AS Donald Trump mengatakan pembicaraan dengan Iran sedang berlangsung untuk mengakhiri konflik yang telah berjalan 25 hari dan disebut mengguncang pasar global. “Kami sedang bernegosiasi sekarang,” kata Trump di Gedung Putih.
Trump juga mengklaim Teheran telah memberikan “hadiah” sebagai tanda itikad baik terkait arus energi di Selat Hormuz, namun ia tidak merinci bentuk “hadiah” tersebut.
Menurut Trump, pembicaraan melibatkan utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, serta Wakil Presiden JD Vance. Ia menegaskan garis merah AS tetap sama, yakni Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir, yang disebut sebagai syarat utama.
Di tengah sinyal diplomasi itu, AS justru memperkuat langkah militernya dengan mengerahkan sekitar 2.000 personel Divisi Lintas Udara ke-82 ke Timur Tengah. Operasi bertajuk “Operation Epic Fury” disebut tetap berjalan, dengan kemungkinan operasi darat jika dibutuhkan.
Seorang juru bicara Gedung Putih menyatakan Presiden Trump “selalu memiliki semua opsi militer,” seraya menekankan bahwa tekanan militer tetap menjadi bagian dari strategi AS terhadap Iran.
Meski demikian, struktur dan isi negosiasi antara AS dan Iran masih belum jelas. Laporan menyebut AS telah mengajukan proposal 15 poin melalui Pakistan, namun belum diketahui siapa pihak Iran yang menerima proposal tersebut maupun bagaimana respons Teheran.
Pembicaraan tingkat tinggi disebut berpotensi digelar dalam waktu dekat, dengan menunggu jawaban dari Iran.

