BERITA TERKINI
AS Buka Jalur Diplomasi dengan Iran di Tengah Konflik, Namun Tetap Tambah Pasukan di Timur Tengah

AS Buka Jalur Diplomasi dengan Iran di Tengah Konflik, Namun Tetap Tambah Pasukan di Timur Tengah

Amerika Serikat membuka jalur diplomasi dengan Iran di tengah lonjakan biaya perang dan tekanan pasar global. Namun, Washington pada saat yang sama juga memperkuat kehadiran militernya di Timur Tengah, menandakan bahwa opsi militer tetap disiapkan meski pembicaraan diklaim sedang berlangsung.

Mengutip laporan Bloomberg, Rabu (25/3/2026), Presiden AS Donald Trump mengatakan negosiasi dengan Iran sedang berjalan untuk mengakhiri konflik yang telah memasuki hari ke-25 dan mengguncang pasar global. Trump juga menyebut Teheran telah memberikan “hadiah” sebagai tanda itikad baik.

Trump tidak merinci bentuk “hadiah” tersebut, tetapi menyatakan nilainya sangat besar dan berkaitan dengan arus energi di Selat Hormuz. Ia merujuk pada laporan bahwa pada Selasa (24/3/2026) sebuah kapal asal Thailand melintasi jalur strategis itu.

“Kami sedang bernegosiasi sekarang,” kata Trump di Gedung Putih.

Menurut Trump, pembicaraan melibatkan utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, serta Wakil Presiden JD Vance. Ia juga mengklaim Iran mulai menyetujui sejumlah parameter awal kesepakatan, dengan syarat utama dari AS bahwa Teheran tidak boleh memiliki senjata nuklir—posisi yang telah lama menjadi garis merah Washington sejak kesepakatan nuklir era Presiden Barack Obama, yang kemudian ditinggalkan AS pada 2018.

“Mereka berbicara dengan kami, dan pembicaraannya masuk akal. Semuanya dimulai dari mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir,” ujar Trump.

Meski sinyal diplomasi muncul, langkah militer AS justru diperkuat. Pemerintahan Trump memerintahkan pengerahan sekitar 2.000 personel dari Divisi Lintas Udara ke-82 ke Timur Tengah. Gedung Putih menegaskan operasi militer bertajuk “Operation Epic Fury” tetap berjalan untuk mencapai target yang telah ditetapkan, dan kehadiran Marinir AS di kawasan disebut membuka kemungkinan operasi darat.

“Presiden Trump selalu memiliki semua opsi militer,” kata juru bicara Gedung Putih.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa AS tetap menjaga tekanan militer terhadap Iran, meski jalur negosiasi dinyatakan terbuka.

Namun, struktur dan isi negosiasi masih belum jelas. Belum diketahui secara pasti siapa saja pihak Iran yang terlibat dan bagaimana bentuk kesepakatan yang akan dicapai. Laporan juga menyebut AS telah mengajukan proposal 15 poin untuk mengakhiri perang, yang disampaikan melalui Pakistan, tetapi belum jelas siapa di pihak Iran yang menerima serta bagaimana responsnya.

Sumber lain menyebut pembicaraan tingkat tinggi berpotensi digelar dalam waktu dekat, namun masih menunggu jawaban dari Teheran.

Sementara itu, situasi di lapangan belum menunjukkan tanda mereda. Konflik Iran dan Israel dilaporkan terus berlanjut, dengan Iran tetap menguasai Selat Hormuz dan Israel melanjutkan serangan dengan intensitas tinggi.