BERITA TERKINI
AS Akhiri Operasi Ofensif di Iran, Beralih ke Misi Pertahanan dan Dorong Diplomasi

AS Akhiri Operasi Ofensif di Iran, Beralih ke Misi Pertahanan dan Dorong Diplomasi

Pemerintah Amerika Serikat resmi menghentikan operasi ofensif militernya terhadap Iran setelah konflik yang berlangsung hampir tiga bulan memicu ketegangan besar di Timur Tengah. Penghentian ini menandai perubahan strategi Washington dari serangan ke fase yang disebut berfokus pada pertahanan serta upaya diplomasi.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, Selasa (5/5/2026), mengatakan operasi militer bertajuk Operation Epic Rage telah berakhir. Menurutnya, AS kini memasuki fase defensif melalui misi baru bernama Project Freedom. “Kami telah menyelesaikan tahap ini,” kata Rubio dalam konferensi pers di Gedung Putih.

Rubio menyatakan fokus utama Washington saat ini bukan lagi melakukan serangan ke Iran, melainkan melindungi pelayaran internasional di Selat Hormuz yang sempat lumpuh akibat eskalasi perang. Ia menyebut banyak awak kapal sipil terjebak di kawasan Teluk dalam kondisi berbahaya, dengan sedikitnya 10 pelaut dilaporkan tewas selama krisis berlangsung.

Dalam pernyataannya, Rubio menegaskan AS tidak akan memulai serangan baru secara sepihak. Namun, ia menyebut pasukan Amerika akan memberikan respons mematikan apabila mendapat serangan.

Pernyataan tersebut sejalan dengan langkah Presiden Donald Trump yang memberi tahu Kongres bahwa aksi militer terhadap Iran telah dihentikan. Keputusan ini muncul setelah tekanan kuat dari Kongres AS yang meminta pemerintahan Trump memperoleh otorisasi resmi apabila ingin melanjutkan perang lebih dari 60 hari. Dengan penghentian operasi ofensif ini, Gedung Putih menegaskan kepatuhannya terhadap aturan konstitusional terkait pengerahan militer jangka panjang.

Meski operasi militer dihentikan, Washington tetap menekan Iran agar kembali ke meja perundingan. Rubio mengatakan utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner masih melakukan upaya diplomatik guna mencari penyelesaian konflik. Ia menegaskan setiap kesepakatan nantinya harus mencakup persoalan program nuklir Iran, termasuk material nuklir yang disebut masih tersimpan di lokasi bawah tanah.

Di sisi lain, Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata AS Jenderal Dan Keen menyatakan militer Amerika tetap siap melanjutkan operasi besar-besaran apabila sewaktu-waktu diperintahkan Presiden Trump. “Tidak ada musuh yang boleh menafsirkan pengendalian diri saat ini sebagai kelemahan,” ujar Keen.

Sementara itu, Iran memperketat pengawasan di Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui hampir seperlima pasokan minyak dunia. Ketua Majelis Syura Iran Mohammad Baqer Qalibaf menyatakan Teheran telah menyiapkan mekanisme baru pengaturan lalu lintas kapal di selat tersebut.

Media pemerintah Iran melaporkan seluruh kapal komersial kini wajib berkoordinasi dengan militer Iran sebelum melintas. Korps Garda Revolusi Iran juga memperingatkan akan mengambil tindakan tegas terhadap kapal yang tidak mengikuti rute dan aturan baru yang ditetapkan Teheran. Iran sekaligus meminta Angkatan Laut AS tidak memasuki kawasan Selat Hormuz.

Langkah tersebut diambil setelah Washington menjalankan operasi pengawalan kapal dagang melalui misi Project Freedom untuk membuka kembali jalur perdagangan yang terganggu akibat perang. Perusahaan pelayaran Denmark Maersk mengonfirmasi salah satu kapalnya berhasil melintasi Selat Hormuz di bawah pengawalan militer AS. Sebelumnya, Komando Pusat AS (CENTCOM) juga menyebut dua kapal dagang berbendera Amerika telah sukses melewati selat tersebut dengan pengamanan ketat.

Meski AS menghentikan operasi ofensifnya, ketegangan di kawasan disebut belum mereda.