BERITA TERKINI
Antrean BBM Mengular di Sejumlah SPBU Sukabumi, Pengemudi Ojol Keluhkan Dampak ke Pendapatan

Antrean BBM Mengular di Sejumlah SPBU Sukabumi, Pengemudi Ojol Keluhkan Dampak ke Pendapatan

Antrean kendaraan untuk pengisian bahan bakar minyak (BBM) terpantau mengular di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kota Sukabumi. Kondisi ini muncul di tengah memanasnya konflik geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang turut mengguncang pasar energi dunia.

Penutupan dan pembatasan akses di Selat Hormuz—jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen distribusi minyak global—disebut memicu lonjakan harga minyak dunia sekaligus menimbulkan kekhawatiran akan kenaikan BBM di berbagai negara, termasuk Indonesia. Di Sukabumi, kekhawatiran tersebut tercermin dari antrean panjang yang memicu keluhan warga, terutama pengemudi ojek online (ojol) yang merasa terdampak pada pendapatan harian.

Pantauan di lapangan menunjukkan antrean cukup panjang terjadi di SPBU Baros, SPBU Ciseureuh, dan SPBU Sudirman. Sejumlah pengendara terlihat menunggu giliran, dengan antrean yang didominasi kendaraan berbahan bakar solar.

Salah seorang pengemudi ojol, Ramlan (42), mengatakan antrean dan situasi BBM menambah beban di tengah kondisi ekonomi yang menurutnya belum stabil. Ia menyebut pendapatan menurun, sementara biaya operasional terus meningkat karena kebutuhan bahan bakar.

“Jelas rugi lah, udah tarif dipangkas, bener bener sekarang BBM naik ya tambah sulit lah,” ujar Ramlan saat ditemui ketika hendak mengisi BBM, Selasa (31/3/2026).

Ramlan mengaku dalam sehari harus dua kali mengisi Pertalite dengan nominal masing-masing Rp25 ribu. “Pokoknya sehari itu dua kali isi,” katanya.

Ia menambahkan, selama ini masih bergantung pada Pertalite untuk bekerja. Menurutnya, jika benar terjadi kenaikan atau pembatasan BBM, para pengemudi ojol akan mempertimbangkan langkah bersama. “Ya kita ibaratnya demo dulu lah sama temen temen, dipertimbangin dulu, soalnya kan kita rakyat kecil udah susah sekarang dipersusah lagi kaya gini,” ucapnya.

Ramlan yang menjadi pengemudi ojol sejak 2019 juga berharap kondisi ekonomi membaik pada 2026. Namun, ia menilai situasi di lapangan masih berat. “Ekonomi juga kan belum stabil masih semrawut di tahun kemarin lagi diuji, 2026 mudah mudahan stabil ternyata kan masih kaya gini tambah sulit lagi,” katanya.

Sebagai kepala keluarga dengan empat anak, ia berharap kebijakan pemerintah mempertimbangkan kondisi masyarakat kecil. “Ya harapannya dilihat yang di bawah bawah dulu sebelum ambil keputusan, kalau yang di atas kan udah enak, ongkang ongkang,” tuturnya.

Sementara itu, Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat, Susanto August Satria, menyatakan pasokan BBM di wilayah Sukabumi dalam kondisi aman dan mencukupi. Ia meminta masyarakat tidak melakukan pembelian berlebihan.

“Masyarakat tidak perlu melakukan panic buying karena stok BBM dalam keadaan yang terjaga untuk memenuhi kebutuhan energi masyarakat,” ujarnya.

Menurut Susanto, Pertamina terus memantau distribusi secara intensif serta berkoordinasi dengan pengelola SPBU agar pelayanan tetap optimal dan antrean lebih tertib. Masyarakat juga diminta menjaga ketertiban selama berada di area SPBU.

Terkait isu proyeksi harga BBM yang beredar, ia menegaskan informasi tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan dan hingga kini belum ada pengumuman resmi. “Informasi valid terkait harga BBM dapat diakses melalui website resmi Pertamina, pertamina mendukung himbauan pemerintah untuk bijak menggunakan energi,” katanya.

Pertamina juga mengimbau masyarakat menggunakan energi secara bijak serta melaporkan kendala layanan atau indikasi pelanggaran melalui Pertamina Call Center 135.