BERITA TERKINI
Ancaman Blokade AS terhadap Iran Dinilai Berisiko Meluas dan Menyeret Kepentingan China

Ancaman Blokade AS terhadap Iran Dinilai Berisiko Meluas dan Menyeret Kepentingan China

NEW YORK — Ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk memberlakukan blokade terhadap Iran dinilai berisiko memicu konflik yang lebih luas, termasuk berpotensi menyeret kepentingan negara besar seperti China. Kekhawatiran ini muncul di tengah ketegangan yang telah memunculkan ancaman serius serta balasan dari Iran.

Dalam skenario yang dibahas, langkah Washington untuk menutup akses pelayaran di Selat Hormuz—bersamaan dengan pembatasan yang dilakukan Teheran—dipandang dapat melumpuhkan perdagangan global dan mengguncang perekonomian dunia. Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi pasokan energi internasional.

Seperti dikutip Independent, salah satu dampak langsung yang disorot adalah lonjakan harga minyak. Harga minyak fisik dilaporkan sempat menyentuh US$148 per barel. Ketegangan juga disebut memicu kenaikan harga gas, pupuk, helium, dan berbagai produk petrokimia lain, sekaligus memperlambat pertumbuhan ekonomi global.

Di sisi lain, eskalasi ini turut memunculkan tuduhan pelanggaran hukum internasional. Ancaman AS untuk menghentikan kapal-kapal internasional dinilai berpotensi melanggar hukum laut internasional, mengingat sekitar 20% pasokan energi dunia melintasi Selat Hormuz.

Dampak terbesar diperkirakan dirasakan Asia. China mengimpor sekitar 31% minyak melalui jalur tersebut, sementara India sekitar 14%. Secara keseluruhan, sekitar 86% ekspor minyak dari kawasan Teluk melalui rute Selat Hormuz menuju Asia. Karena itu, Beijing menyerukan penahanan diri dari kedua pihak.

Rencana blokade juga dinilai menjadi ancaman strategis bagi China, mengingat negara itu membeli sekitar 80% ekspor minyak Iran. Tindakan militer terhadap kapal pengangkut minyak menuju China disebut berpotensi dipandang sebagai tindakan perang oleh Beijing.

Meski demikian, China diperkirakan tidak akan bereaksi secara agresif. Presiden Xi Jinping disebut kemungkinan memanfaatkan situasi tersebut sebagai preseden untuk mengkritik dominasi AS dalam aturan pelayaran global.

Ketegangan ini juga menyoroti perselisihan lama di Laut China Selatan, wilayah di mana AS dan sekutunya kerap menantang klaim China dengan alasan menjaga kebebasan navigasi.

Hingga kini, belum ada sekutu utama AS yang menyatakan dukungan terhadap rencana blokade tersebut. Wacana ini menguat setelah perundingan intensif antara AS dan Iran yang dipimpin Wakil Presiden AS JD Vance di Pakistan gagal mencapai kesepakatan terkait program nuklir Iran.