BERITA TERKINI
Analisis “Reset Amerika”: Tanda Perubahan Tatanan Dunia Pasca Dominasi AS

Analisis “Reset Amerika”: Tanda Perubahan Tatanan Dunia Pasca Dominasi AS

Analisis Prof. Jiang Xueqin menyoroti kemungkinan terjadinya “reset Amerika”, sebuah perubahan struktural dalam tatanan global yang muncul setelah era dominasi Amerika Serikat pasca-runtuhnya Uni Soviet. Dalam pandangannya, dunia tidak sedang bergerak menuju kekacauan total, melainkan memasuki fase penataan ulang cara kekuasaan global diatur.

Jiang mengajak melihat kembali momen 1991 ketika Uni Soviet runtuh dan dunia memasuki periode unipolar. Amerika Serikat kemudian tampil sebagai kekuatan besar tanpa pesaing serius, yang melahirkan apa yang dikenal sebagai “New World Order”. Sistem ini bertumpu pada perdagangan global, namun memiliki fondasi lain yang lebih menentukan: dominasi dolar sebagai mata uang cadangan dunia, yang memberi Amerika kemampuan memengaruhi “pricing” atau penentuan nilai dalam aktivitas ekonomi global.

Menurut Jiang, “pricing” bukan sekadar soal harga barang, melainkan mekanisme yang menentukan nilai berbagai kegiatan ekonomi dunia. Dari situ terbentuk hierarki global tidak tertulis: lapisan terbawah berupa sumber daya alam, di atasnya manufaktur, lalu pengetahuan dan teknologi, dan puncaknya sektor keuangan. Jiang menggambarkan pembagian peran global secara sederhana: Rusia, Afrika, dan Amerika Selatan sebagai penyedia sumber daya; China sebagai pusat manufaktur; Eropa sebagai pusat pengetahuan dan teknologi; sementara Amerika berada di puncak sebagai pusat keuangan global.

Dalam kerangka ini, sistem tampak berjalan mulus karena setiap negara menempati posisi sesuai keunggulannya. Namun Jiang menilai ada risiko besar ketika sebuah negara terlalu bertumpu pada sektor finansial. Ekonomi, katanya, dapat bergeser menjadi spekulatif: uang tidak lagi mendorong produksi barang atau teknologi, melainkan berputar untuk menghasilkan uang lebih banyak. Ia menyebut gejala itu terlihat pada krisis finansial 2008, ketika sistem keuangan Amerika nyaris runtuh dan dunia berada di ambang krisis ekonomi global.

Jiang menilai sistem tersebut selamat melalui langkah yang jarang dibicarakan secara terbuka, yakni keputusan China menggelontorkan investasi besar untuk pembangunan infrastruktur. Pembangunan bandara, kota baru, rel kereta cepat, hingga pelabuhan dalam skala besar disebut membantu menjaga permintaan global agar perekonomian dunia tidak ikut runtuh. Namun konsekuensinya, China menanggung beban utang besar. Setelah itu, Beijing mulai menyampaikan pesan politik yang lebih tegas: jika ikut menyelamatkan ekonomi global, maka China merasa berhak memiliki posisi lebih besar dalam pengambilan keputusan dunia.

Dari titik itu, China ingin memperluas pengaruhnya dengan menjual teknologi, bersaing di pasar global, dan menempatkan diri sebagai kekuatan setara Amerika. Jiang menilai respons Washington pada dasarnya adalah penolakan, yang kemudian bermuara pada perang dagang Amerika–China pada era Donald Trump. Persaingan itu, dalam pembacaan Jiang, berkembang melampaui perdagangan menjadi konflik teknologi, geopolitik, dan ekonomi global.

Perang Rusia–Ukraina pada 2022 juga dipandang Jiang bukan semata konflik wilayah, melainkan bentuk pemberontakan terhadap hierarki ekonomi global. Dampaknya turut terlihat pada sektor pangan, mengingat Rusia dan Ukraina disebut menyumbang bagian besar pasokan gandum dunia. Ketika konflik pecah, stabilitas pangan global ikut terguncang.

Dalam perspektif yang sama, konflik terbaru antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran disebut dapat menjadi katalis yang mempercepat proses “reset” tersebut. Konflik digambarkan meletus dahsyat pada akhir Februari 2026, ketika AS dan Israel melancarkan serangan besar terhadap fasilitas militer dan nuklir Iran. Serangan itu memicu balasan Iran, meningkatkan ketegangan regional, serta menimbulkan gangguan terhadap energi dan perdagangan global. Jalur energi vital seperti Selat Hormuz terancam, pasar energi dunia terguncang, dan jaringan aliansi di Timur Tengah ikut terdampak.

Menurut teori Jiang, perang semacam ini bukan sekadar konflik regional, melainkan ujian terhadap sistem global yang menopang dominasi Amerika, mulai dari stabilitas dolar hingga keamanan jalur energi dunia. Jika konflik semacam itu menguras sumber daya Amerika atau mempercepat munculnya sistem ekonomi alternatif, maka perang dapat berperan sebagai mekanisme yang mempercepat proses penataan ulang kekuatan global.

Jiang menekankan pentingnya sumber daya dalam fondasi sistem global. Ia menilai siapa yang menguasai sumber daya memiliki kartu tawar besar, karena tanpa energi, mineral, dan pangan, tidak ada manufaktur, tidak ada teknologi, dan pada akhirnya tidak ada sektor keuangan yang bisa berdiri stabil.

Dari rangkaian dinamika tersebut, Jiang melihat retaknya sistem global yang dibangun setelah Perang Dingin. Amerika, dalam pembacaannya, berusaha mempertahankan sistem lama—dolar, jaringan finansial global, dan dominasi ekonomi. Sementara itu, kekuatan lain seperti China dan Rusia disebut berupaya membangun sistem alternatif melalui gagasan seperti BRICS, pembukaan jalur perdagangan baru, serta langkah mengurangi ketergantungan pada dolar.

Bagi Jiang, semua perkembangan itu bukan pertanda dunia menuju kekacauan, melainkan sinyal bahwa “permainan lama” sedang di-reset. Dalam proses tersebut, Amerika diperkirakan tidak hilang, tetapi harus beradaptasi. Ia menggambarkan reset ini bukan sebagai akhir Amerika, melainkan akhir dari satu cara Amerika memimpin dunia—sebuah perubahan yang terjadi perlahan, namun berdampak mendalam pada susunan kekuasaan global.