Sebuah analisis dari Citrini Research memicu perhatian luas di dunia maya setelah mengulas potensi dampak negatif adopsi kecerdasan buatan (AI) terhadap stabilitas ekonomi global. Alih-alih berfokus pada narasi fiksi ilmiah tentang “kiamat robot”, laporan tersebut menyoroti skenario spekulatif yang dinilai lebih dekat dengan realitas: integrasi agen AI yang terlalu agresif dapat memicu guncangan ekonomi dalam beberapa tahun ke depan.
Dikutip dari Techcrunch, Rabu (25/2/2026), Citrini menggambarkan kemungkinan meningkatnya pengangguran hingga dua kali lipat serta penyusutan nilai pasar saham global sampai sepertiga dari posisi saat ini. Skenario itu dikaitkan dengan terganggunya keseimbangan ekosistem tenaga kerja akibat akselerasi otomatisasi di sektor-sektor yang selama ini banyak menyerap pekerja kerah putih.
Menurut analisis tersebut, ancaman utama muncul dari apa yang disebut sebagai lingkaran umpan balik negatif yang tidak memiliki “rem” alami. Prosesnya dimulai ketika kemampuan AI meningkat cepat dan mendorong perusahaan memangkas tenaga kerja untuk menekan biaya. PHK massal kemudian menurunkan daya beli masyarakat, sehingga permintaan melemah dan pasar menjadi lesu.
Ironisnya, kondisi pasar yang melemah dan margin keuntungan yang tertekan justru dapat mendorong perusahaan berinvestasi lebih besar pada AI untuk mencari efisiensi tambahan. Siklus itu berulang dan semakin mengurangi peran manusia dalam aktivitas ekonomi, hingga pada titik tertentu berpotensi membawa sistem menuju kondisi jenuh yang berbahaya.
Citrini Research juga menyoroti risiko ketergantungan pada pertumbuhan produktivitas yang diperoleh dari penggantian pekerja oleh mesin. Fokusnya bukan hanya pada pekerjaan internal perusahaan, melainkan juga pada pergeseran ketika agen AI mulai mengambil alih peran kontraktor eksternal dan layanan pihak ketiga yang selama ini menopang transaksi antarperusahaan.
Fenomena ini disebut memiliki kemiripan dengan isu “kematian SaaS” (Software as a Service), namun dengan dampak yang dipandang lebih luas karena menyasar hampir semua model bisnis yang bertumpu pada optimalisasi transaksi. Ketika perusahaan memilih solusi AI internal yang dinilai jauh lebih murah, ekosistem ekonomi yang saling terhubung berisiko melemah karena aliran modal ke penyedia jasa berbasis tenaga manusia menyusut.
Laporan tersebut memicu perdebatan di kalangan pakar ekonomi dan teknologi di berbagai platform digital. Citrini menegaskan narasi itu merupakan skenario spekulatif, bukan prediksi pasti, namun sebagian pihak menilai argumen yang diajukan sulit diabaikan karena mengikuti logika insentif biaya dan efisiensi yang selama ini menjadi pertimbangan utama dunia usaha.
Kekhawatiran itu dinilai relevan karena transisi teknologi kerap bergerak lebih cepat daripada kemampuan pasar tenaga kerja untuk beradaptasi. Ketimpangan adaptasi tersebut, menurut laporan itu, dapat menciptakan kesenjangan yang berujung pada ketidakstabilan sosial dan finansial dalam skala besar.
Di sisi lain, terdapat pandangan skeptis mengenai kesiapan perusahaan besar untuk sepenuhnya menyerahkan keputusan pembelian atau manajemen rantai pasok kepada agen AI, seberapa pun canggih algoritmanya. Namun, Citrini mengaitkan keraguan itu dengan tren saat ini, ketika banyak keputusan operasional sudah mulai diserahkan kepada algoritma pihak ketiga, sehingga skenario yang ditawarkan dianggap tidak sepenuhnya mustahil.
Jika agen AI benar-benar mampu menunjukkan efisiensi biaya yang signifikan dibandingkan kontraktor manusia, laporan tersebut menilai dorongan menuju otomatisasi penuh dapat sulit dibendung, baik oleh pertimbangan moral maupun risiko jangka panjang. Pada akhirnya, analisis ini diposisikan sebagai pengingat bagi pembuat kebijakan dan pemimpin bisnis agar tidak hanya mengejar peningkatan produktivitas jangka pendek, melainkan juga menyiapkan strategi ketahanan ekonomi yang menjaga daya beli masyarakat.
Citrini menekankan bahwa tanpa regulasi atau mekanisme “rem” yang memadai, lompatan besar AI yang saat ini dipandang menjanjikan dapat berubah menjadi bumerang. Dalam skenario terburuk, efisiensi yang dikejar melalui otomatisasi berpotensi bergeser menjadi resesi yang sulit dipulihkan, karena fondasi permintaan dan keterkaitan antar pelaku ekonomi ikut melemah.

