BERITA TERKINI
Analis: Tembaga dan Nikel Berpeluang Menguat Saat Ketegangan Timur Tengah Mereda

Analis: Tembaga dan Nikel Berpeluang Menguat Saat Ketegangan Timur Tengah Mereda

Meredanya ketegangan di Timur Tengah dinilai berpotensi mendorong penguatan logam industri, terutama tembaga dan nikel, seiring meningkatnya selera risiko (risk appetite) investor global.

Analis Komoditas sekaligus Founder Traderindo, Wahyu Tribowo Laksono, mengatakan stabilitas di kawasan tersebut dapat menjadi pemicu sentimen positif di pasar keuangan global. Menurut dia, ketika tensi geopolitik menurun, aliran dana cenderung bergeser dari aset aman menuju aset berisiko, termasuk logam industri.

“Stabilitas di Timur Tengah berfungsi sebagai ‘pelumas’ bagi risk appetite investor global. Jika ketegangan mereda, investor cenderung keluar dari aset aman seperti dolar AS dan masuk ke logam industri seperti tembaga dan nikel,” kata Wahyu, Kamis, 26 Maret 2026.

Selain faktor sentimen, Wahyu menilai stabilitas juga berpengaruh langsung terhadap aktivitas perdagangan global, terutama melalui jalur logistik penting seperti Selat Hormuz. Ia menyebut kelancaran arus perdagangan dan penurunan biaya asuransi pengiriman dapat memperbaiki margin bagi eksportir dan importir logam secara global.

“Kelancaran arus perdagangan dan penurunan biaya asuransi pengiriman akan memperbaiki margin bagi eksportir dan importir logam secara global,” ujarnya.

Data pasar menunjukkan logam industri sensitif terhadap perubahan sentimen geopolitik. Bloomberg melaporkan harga tembaga naik sekitar 1,8% pada 25 Maret 2026, seiring optimisme terhadap upaya diplomatik Amerika Serikat untuk meredakan konflik di Timur Tengah. Namun sebelumnya, pada 23 Maret 2026, harga tembaga sempat jatuh ke level terendah lebih dari tiga bulan ketika ketegangan konflik menekan selera risiko global.

Sementara itu, harga nikel di London Metal Exchange (LME) tercatat di kisaran USD17.215 per ton pada 27 Maret 2026, naik tipis sekitar 0,29% secara harian. Meski demikian, pergerakan nikel dalam sebulan terakhir cenderung lebih stabil, yang mencerminkan adanya pengaruh faktor lain di luar geopolitik.

Berbeda dengan tembaga, pergerakan nikel saat ini disebut masih lebih dipengaruhi faktor pasokan, terutama kebijakan produksi dan ekspor dari Indonesia sebagai produsen utama dunia. Meski begitu, sentimen global tetap dapat memberi dukungan jangka pendek.

Reuters mencatat pasar sempat bergerak ke mode risk-on pada 25 Maret 2026, ditandai penguatan saham global dan penurunan imbal hasil obligasi, setelah muncul harapan de-eskalasi konflik Timur Tengah. Senior multi-asset manager Amundi, Amelie Derambure, mengatakan pasar mulai merespons peluang damai tersebut.

“Sentimen pasar berada di sisi positif. Pasar sekarang memperdagangkan gagasan bahwa pembicaraan damai atau gencatan senjata mungkin sedang menuju ke sana,” ujarnya.

Namun, sentimen tersebut dinilai masih rapuh. Ketika harapan damai meredup, pasar dapat berbalik arah. Chief market strategist Nationwide Financial, Mark Hackett, menilai pasar saat ini sangat sensitif terhadap arus informasi.

“Pasar sangat rentan berayun tajam mengikuti siklus berita,” katanya.

Di sisi lain, gangguan logistik akibat konflik tetap menjadi faktor penting. Selat Hormuz—yang biasanya mengalirkan sekitar 20% pasokan energi global—masih menghadapi disrupsi yang dapat meningkatkan biaya energi dan pengiriman. Reuters melaporkan perusahaan pelayaran seperti Hapag-Lloyd menanggung tambahan biaya hingga US$40–50 juta per pekan, sementara gangguan rute pelayaran utama turut menekan rantai pasok global.

Kondisi ini menunjukkan stabilitas Timur Tengah tidak hanya memengaruhi sentimen investor, tetapi juga berdampak langsung pada biaya logistik global yang pada akhirnya turut menentukan pergerakan harga komoditas industri.