Direktur Intelligence National Security Studies (INSS) Stepi Anriani menilai pendekatan Indonesia yang berhati-hati dan tidak tergesa-gesa untuk berpihak secara langsung dalam konflik global merupakan langkah realistis untuk menjaga kepentingan nasional. Menurutnya, posisi Indonesia saat ini masih sejalan dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif dengan menjaga keseimbangan dalam menghadapi konflik antarnegara tanpa kehilangan kepentingan strategis.
Stepi menekankan bahwa prinsip bebas aktif dan non-blok tidak berarti Indonesia harus bersikap pasif atau ragu dalam menentukan sikap. Ia menjelaskan bahwa konsep tersebut memungkinkan Indonesia mengambil posisi berbeda pada konflik yang berbeda, sesuai kepentingan nasional yang perlu dijaga.
“Bebas aktif dan non-blok ini bukan berarti kita jadi 'banci'. Artinya ketika Bung Hatta menciptakan non-blok bebas aktif itu adalah kita boleh membela A di konflik X, membela B di konflik Y,” kata Stepi di Jakarta, Sabtu, 14 Maret 2026.
Ia menilai pendekatan ini memberi ruang bagi Indonesia untuk tetap fleksibel merespons perubahan situasi geopolitik, sekaligus menghindari keterlibatan langsung dalam konflik yang dapat merugikan stabilitas nasional. Dalam konteks konflik yang berlangsung di Timur Tengah, Stepi menilai pemerintah perlu menjaga kehati-hatian karena dinamika geopolitik tidak selalu terkait isu agama atau ideologi, melainkan lebih banyak dipengaruhi kepentingan strategis negara.
“Karena ini bukan masalah agama, bukan masalah mazhab atau apa ya. Ini adalah masalah geopolitik. Dan dalam geopolitik tidak ada halal haram. Yang ada adalah national interest, apa keamanan nasional yang harus dijaga,” ujarnya.
Stepi juga menilai langkah pemerintah yang tidak terburu-buru mengambil posisi konfrontatif sebagai pilihan realistis di tengah kompleksitas konflik global. Ia menambahkan bahwa Presiden Prabowo Subianto dinilai memahami dinamika geopolitik sehingga memilih langkah yang lebih hati-hati dalam menjaga hubungan diplomatik dengan berbagai negara.
“Kita sebetulnya berpikir jernih. Tapi saya rasa Presiden Pak Prabowo paham sekali geopolitik dan beliau juga memainkan langkahnya dengan hati-hati betul,” kata Stepi.
Menurut Stepi, pendekatan yang mengedepankan kehati-hatian penting agar Indonesia tidak terseret lebih jauh ke dalam konflik antarnegara yang berpotensi menimbulkan dampak luas, baik terhadap stabilitas nasional maupun kepentingan strategis Indonesia di kawasan.

