Mantan Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) Al Gore meyakini hubungan AS dan China berpeluang kembali membaik jika terjadi perubahan kepemimpinan di Washington setelah pemilihan umum pada November mendatang.
Pernyataan itu disampaikan Gore dalam sesi tanya jawab bersama CEO DBS Group Piyush Gupta pada acara DBS Asian Insights Conference, Jumat (24/7/2020). Ia menyebut, terutama bila ada pergantian kepemimpinan di AS dalam beberapa bulan ke depan, relasi kedua negara “mungkin dapat kembali ke jalurnya”.
Meski demikian, Gore juga menyinggung adanya dinamika di China yang memunculkan kekhawatiran di berbagai negara. Ia mencontohkan langkah-langkah yang baru diambil di Hong Kong sebagai gambaran dari kekhawatiran dunia terhadap kebijakan China saat ini. Namun, ia tetap menyatakan keyakinannya bahwa China berkomitmen pada apa yang disebutnya sebagai “kebangkitan damai”.
Gore menambahkan, pertumbuhan ekonomi yang pesat di sejumlah negara Asia, termasuk China dan India, dapat menjadi pemicu meningkatnya ketegangan antara AS dan China. Kendati begitu, ia berpendapat kedua negara dengan ekonomi terbesar di dunia itu akan mampu mengelola perbedaan secara damai.
Selain isu hubungan bilateral, Gore juga menilai hasil pemilu AS dapat berdampak pada keterlibatan AS dalam perjanjian-perjanjian internasional. Ia mengatakan, bila kandidat presiden dari Partai Demokrat Joe Biden mengalahkan Presiden Donald Trump, AS kemungkinan akan kembali pada sejumlah perjanjian penting yang ditinggalkan di era Trump.
Salah satu perjanjian yang disorot adalah Perjanjian Paris (Paris Agreement) terkait upaya menekan perubahan iklim. Pemerintahan Trump mengajukan dokumen untuk menarik AS dari perjanjian tersebut pada November 2019, yang disebut sebagai langkah formal pertama setelah pernyataan akan keluar dari kesepakatan itu.
Menurut Gore, perubahan kebijakan iklim sebenarnya bisa tetap berlangsung meski tanpa pergantian presiden, mengingat sejumlah negara bagian seperti California, New York, dan Washington, serta ratusan kota di AS, telah berkomitmen bergerak lebih cepat dari ketentuan Perjanjian Paris, termasuk target penggunaan 100% energi terbarukan.
Namun ia menegaskan, jika Biden menang dan menjadi presiden, perubahan yang terjadi bisa lebih besar. Gore menyebut Biden baru merilis rencana iklim yang dinilainya mengesankan dan komprehensif, serta berpotensi memberi dampak signifikan jika diimplementasikan.

