Lanskap ancaman siber di kawasan Asia Pasifik (APAC) diperkirakan mengalami perubahan mendasar pada 2026, seiring meningkatnya penggunaan kecerdasan buatan (AI) otonom oleh pelaku kejahatan siber. Otomatisasi tingkat tinggi membuat serangan dapat dilancarkan dalam skala besar dan dengan kecepatan yang melampaui kemampuan respons manusia.
Gambaran tersebut disampaikan dalam laporan Prediksi Cloud dan Security 2026 untuk APAC dari Akamai Technologies, yang dirilis Kamis (5/2/2026). Dalam laporan itu, efisiensi serangan tidak lagi ditentukan oleh jumlah personel peretas, melainkan oleh kemampuan otomatisasi yang semakin canggih.
Salah satu sorotan utama adalah kemunculan AI otonom yang mampu memindai kerentanan sistem dan melakukan uji coba titik masuk secara mandiri. Akamai menilai kemampuan ini memangkas siklus serangan yang sebelumnya bisa memakan waktu berminggu-minggu menjadi hanya hitungan jam.
Direktur Teknologi dan Strategi Keamanan Akamai, Reuben Koh, menilai pendekatan keamanan konvensional tidak lagi memadai menghadapi ancaman yang bergerak cepat. “Para pemimpin perusahaan tidak dapat mengandalkan pertahanan yang bergantung pada kecepatan manusia dalam lingkungan ancaman yang bergerak dengan kecepatan mesin,” ujar Koh.
Ia menekankan pentingnya deteksi dan pengendalian ancaman secara real-time, terutama untuk menjaga kepercayaan konsumen di pasar digital bernilai tinggi seperti Singapura, Korea, dan Jepang.
API dinilai menjadi titik lemah baru
Laporan tersebut juga menempatkan Application Programming Interface (API) sebagai vektor serangan utama pada lapisan aplikasi. Seiring meluasnya adopsi perbankan digital dan layanan publik berbasis aplikasi di APAC, celah pada API dinilai semakin menarik bagi pelaku serangan sebagai pintu masuk.
Akamai mencatat lebih dari 80 persen organisasi di APAC telah mengalami setidaknya satu insiden keamanan API dalam setahun terakhir. Di sisi lain, hampir dua pertiga organisasi mengaku tidak mengetahui API mana saja yang mengirimkan data sensitif mereka.
Kondisi minimnya pengawasan, ditambah otomatisasi AI, dinilai membuka peluang bagi aktor jahat untuk mengeksploitasi alur API yang rentan secara massal.
Ransomware diprediksi makin “terdemokratisasi”
Untuk 2026, Akamai memprediksi terjadinya puncak “demokratisasi” ransomware. Melalui model bisnis Ransomware-as-a-Service (RaaS) serta teknik vibe-hacking yang didukung AI, ambang batas keahlian untuk melakukan kejahatan siber disebut semakin rendah.
Sektor kritis seperti keuangan, kesehatan, dan industri teknologi tinggi—termasuk semikonduktor—diperkirakan tetap menjadi target utama. Namun, Akamai juga melihat pergeseran taktik, yakni pelaku mulai menyasar penyedia layanan terkelola dan vendor rantai pasokan sebagai titik masuk bernilai tinggi untuk melumpuhkan ekosistem yang lebih luas.
Kedaulatan data dan keamanan AI terdistribusi
Di sisi infrastruktur, isu keamanan siber disebut semakin beririsan dengan kedaulatan digital. Mengikuti jejak Uni Eropa, organisasi di kawasan APAC mulai memprioritaskan portabilitas cloud untuk memitigasi risiko geopolitik dan mengurangi ketergantungan pada satu vendor.
Tantangan keamanan juga meluas ke rantai pasokan data AI. Akamai memprediksi adopsi “Firewall AI” akan meningkat pesat. Teknologi ini dirancang untuk memeriksa prompt (instruksi) dan respons secara real-time guna mencegah kebocoran data pada model AI yang kian terdistribusi hingga ke tepi jaringan (edge).
Sebagai langkah antisipasi, Akamai merekomendasikan organisasi memodernisasi tata kelola API untuk menutup celah visibilitas data, berinvestasi pada kontrol ancaman otomatis agar mampu menandingi kecepatan serangan berbasis mesin, serta memperkuat ketahanan rantai pasokan melalui audit keamanan yang lebih ketat terhadap vendor pihak ketiga.

