BERITA TERKINI
Akademisi Kyoto University Paparkan Solusi Krisis Sampah Plastik Global dalam Kuliah Umum di UHN Tegal

Akademisi Kyoto University Paparkan Solusi Krisis Sampah Plastik Global dalam Kuliah Umum di UHN Tegal

Universitas Harkat Negeri (UHN) menggelar kuliah umum internasional yang menyoroti krisis lingkungan, dengan fokus pada persoalan sampah plastik yang semakin mendesak. Kegiatan ini berlangsung di Aula Kampus Mataram UHN dan dihadiri ratusan mahasiswa dari berbagai fakultas.

Kuliah umum menghadirkan Prof. Masaaki Okamoto, PhD, akademisi dari Kyoto University, Jepang, yang dikenal melalui risetnya di bidang lingkungan global. Ia membawakan tema “Krisis Global Sampah Plastik dan Solusinya”, menegaskan bahwa persoalan tersebut tidak lagi bersifat lokal, melainkan lintas negara dan lintas generasi.

Selain mahasiswa dan dosen, acara ini juga diikuti perwakilan Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida), Dinas Lingkungan Hidup, Badan Penanggulangan Bencana Daerah, serta pegiat lingkungan hidup. Komunitas Bank Sampah dari Kota Tegal, Kabupaten Tegal, dan Kabupaten Brebes turut hadir sebagai representasi gerakan akar rumput dalam pengelolaan sampah.

Dalam pemaparannya, Prof. Okamoto menyampaikan data yang menunjukkan lonjakan signifikan produksi plastik global dalam beberapa dekade terakhir. Ia menyebut Asia sebagai salah satu kawasan dengan pertumbuhan limbah plastik tercepat, seiring pertumbuhan ekonomi dan urbanisasi yang pesat.

Menurutnya, digitalisasi gaya hidup modern juga ikut mempercepat penggunaan plastik sekali pakai di hampir semua sektor kehidupan. Ia menekankan bahwa sampah plastik bukan sekadar persoalan estetika lingkungan, melainkan ancaman serius bagi ekosistem dan kesehatan manusia.

“Data menunjukkan jumlah sampah plastik terus bertambah dan telah menimbulkan ancaman nyata bagi lingkungan dan kesehatan,” ujar Prof. Okamoto.

Ia memperingatkan, tanpa penanganan yang sistematis, krisis sampah plastik akan semakin sulit dikendalikan pada masa mendatang. Prof. Okamoto menilai pendekatan parsial tidak lagi memadai untuk menghadapi kompleksitas masalah tersebut.

Ia mendorong penerapan pendekatan komprehensif yang mencakup perubahan material, teknologi, kebijakan, serta perilaku masyarakat. Peralihan dari plastik konvensional ke material ramah lingkungan disebutnya sebagai langkah awal yang tidak bisa ditawar.

Selain itu, penguatan sistem pengolahan limbah terpadu dinilai krusial untuk menekan kebocoran sampah ke lingkungan. Teknologi pembersihan laut dan sungai juga dipandang sebagai bagian penting dari solusi, terutama bagi negara kepulauan seperti Indonesia.