BERITA TERKINI
Airlangga Soroti Geopolitik, Proteksionisme, dan Peran Asia di Tokyo Conference 2026

Airlangga Soroti Geopolitik, Proteksionisme, dan Peran Asia di Tokyo Conference 2026

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan pandangan Indonesia mengenai dinamika ekonomi global dan pentingnya penguatan kerja sama regional Asia dalam sesi Asian Leaders Roundtable, yang menjadi bagian dari rangkaian Tokyo Conference 2026 di Tokyo, Jepang.

Forum tersebut dipimpin mantan Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida dengan Co-Chair mantan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono. Sejumlah tokoh ekonomi dan kebijakan kawasan turut hadir, antara lain mantan Deputi Perdana Menteri Singapura Heng Swee Keat, mantan Menteri Keuangan Indonesia Sri Mulyani Indrawati, mantan Gubernur Reserve Bank of India Duvvuri Subbarao, mantan Gubernur Bank of Thailand Tarisa Watanagase, mantan Sekretaris Jenderal ASEAN Ong Keng Yong, serta mantan Menteri Perdagangan Malaysia Tengku Zafrul Tengku Abdul Aziz.

Dalam paparannya, Airlangga menilai tatanan global tengah mengalami perubahan signifikan. Menurutnya, situasi itu ditandai meningkatnya politik berbasis kekuatan, menguatnya proteksionisme, serta menurunnya kepercayaan terhadap sistem multilateralisme.

Ia mengatakan kondisi tersebut terlihat dari terbatasnya kemajuan di forum global seperti Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dalam merespons isu-isu baru, termasuk perdagangan digital dan ketahanan rantai pasok global. Pada saat yang sama, ia menyoroti kecenderungan negara-negara menempuh pendekatan unilateral maupun bilateral.

Airlangga juga menyinggung memanasnya situasi geopolitik global, termasuk eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel dengan Iran, yang dinilai menambah tekanan terhadap stabilitas ekonomi global.

Ia menyebut lonjakan harga minyak dunia yang melampaui US$ 100 per barel, disertai fluktuasi yang masih berlanjut, serta potensi terganggunya jalur energi global melalui Selat Hormuz, sebagai bukti bahwa stabilitas dan perkembangan ekonomi dunia sangat dipengaruhi dinamika geopolitik.

Merespons kondisi tersebut, Airlangga menyampaikan Indonesia terus memperkuat ketahanan energi nasional sejalan dengan arahan Presiden melalui percepatan pengembangan energi berbasis sumber daya domestik. Ia memaparkan sejumlah program yang tengah dijalankan, termasuk implementasi biodiesel B40 dan target percepatan menuju B50. Pemerintah juga mendorong pengembangan bioetanol melalui program E10 yang akan dipercepat implementasinya menuju E20.

Di bidang energi baru terbarukan, Airlangga mengatakan Indonesia menyiapkan pengembangan kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hingga sekitar 800 gigawatt sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat transisi energi dan meningkatkan kemandirian energi nasional.

Dalam konteks ketidakpastian global, Airlangga menilai Asia memiliki peran penting sebagai kekuatan penyeimbang yang dapat menjaga stabilitas ekonomi dunia. Ia menyebut kawasan Asia diproyeksikan menyumbang sekitar 52% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) global pada 2050, sehingga penguatan kerja sama regional dinilai semakin strategis.

Airlangga menegaskan Asia perlu tetap berpegang pada prinsip inklusivitas dan multilateralisme berbasis aturan (rules-based multilateralism). Ia menilai kerja sama regional melalui berbagai kerangka seperti ASEAN, kemitraan ekonomi regional, serta forum multilateral seperti G20, menjadi instrumen penting untuk memperkuat integrasi ekonomi, meningkatkan konektivitas, dan menjaga stabilitas kawasan di tengah rivalitas kekuatan besar.

Ia juga mendorong Asia untuk mencegah fragmentasi ekonomi global menjadi blok-blok yang saling bersaing. Menurutnya, kawasan perlu memperkuat keterbukaan perdagangan, konektivitas ekonomi, serta kerja sama strategis yang saling melengkapi guna mendorong pertumbuhan bersama.

Airlangga menyampaikan arahan Presiden Prabowo Subianto bahwa Indonesia harus berada di tengah panggung ekonomi global, dengan kinerja ekonomi yang dinilai tetap solid di tengah ketidakpastian. Ia menambahkan Indonesia akan terus melakukan diplomasi non-blok dalam menavigasi situasi global.

Dalam kesempatan yang sama, Airlangga menyebut perekonomian Indonesia diproyeksikan tumbuh sekitar 5,4% pada 2026, dengan inflasi yang tetap terkendali dan defisit fiskal yang terjaga. Ia juga menyampaikan Indonesia mempertahankan surplus neraca perdagangan selama 69 bulan berturut-turut hingga awal 2026.

Selain itu, ia mengatakan pemerintah terus mendorong pendekatan “Indonesia Incorporated”, yakni sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat transformasi ekonomi nasional dan meningkatkan daya saing global.

Menutup paparannya, Airlangga menekankan Asia memiliki peluang besar menjadi kekuatan stabilisasi dalam perekonomian global apabila tetap berkomitmen pada keterbukaan, kerja sama regional, serta penguatan sistem ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Ia menyatakan jika Asia mempertahankan semangat keterbukaan regional dan menolak pendekatan zero-sum dalam rivalitas kekuatan besar, maka abad ke-21 dapat menjadi abad Asia.