Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memproyeksikan Indonesia akan menjadi salah satu dari lima ekonomi terbesar di dunia pada 2050. Ia juga menyatakan optimisme bahwa dalam jangka pendek ekonomi Indonesia dapat tumbuh sekitar 5,4 persen pada 2026.
Menurut Airlangga, keyakinan tersebut ditopang oleh fundamental ekonomi domestik yang dinilai masih kuat. Salah satu indikator yang disorot adalah surplus perdagangan yang disebut telah berlangsung selama 69 bulan berturut-turut hingga awal tahun ini.
Dalam Tokyo Conference 2026, Airlangga menyampaikan pemerintah mempercepat strategi “Indonesia Incorporated”, yang ia jelaskan sebagai sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan seluruh elemen bangsa untuk mencapai tujuan pembangunan bersama.
Dengan landasan itu, Indonesia dinilai siap memperkuat kerja sama dengan berbagai mitra di kawasan guna menjaga ketahanan ekonomi global. Airlangga juga menekankan bahwa negara-negara Asia memiliki potensi besar menjadi kekuatan ekonomi utama dunia di masa depan, namun hal tersebut bergantung pada komitmen terhadap kerja sama regional yang terbuka dan inklusif.
Ia menyebut Asia diproyeksikan menyumbang sekitar 52 persen dari produk domestik bruto (PDB) global pada 2050. Proyeksi tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa dalam kurang dari 25 tahun mendatang kawasan Asia akan memainkan peran yang semakin besar dalam perekonomian dunia.
“Jika Asia tetap berkomitmen pada kerja sama terbuka dan menolak persaingan zero-sum, maka tahun 2050 dapat menjadi abad Asia,” kata Airlangga.
Dalam paparannya, Airlangga juga menyampaikan proyeksi ukuran ekonomi sejumlah negara Asia pada 2050. China diperkirakan menjadi ekonomi terbesar di Asia dengan nilai PDB hampir 58 triliun dolar AS, disusul India sekitar 44 triliun dolar AS. Sementara Indonesia diperkirakan berada di posisi ketiga di Asia dengan PDB sekitar 10 hingga 11 triliun dolar AS.

