BERITA TERKINI
Airlangga di Tokyo Conference 2026: Asia Perlu Perkuat Kerja Sama Ekonomi dan Sistem Multilateral

Airlangga di Tokyo Conference 2026: Asia Perlu Perkuat Kerja Sama Ekonomi dan Sistem Multilateral

Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menilai negara-negara Asia perlu memperkuat kerja sama regional serta mempertahankan sistem multilateral berbasis aturan di tengah perubahan lanskap geopolitik global. Pernyataan itu disampaikan Airlangga dalam Tokyo Conference 2026, pada sesi Asian Leaders Roundtable bertema “Envisioning Our Future: What kind of global role should Asia aspire in 2050?” di Tokyo, Jepang, Selasa (10/3/2026).

Dalam forum tersebut, Airlangga menilai dunia saat ini menghadapi dinamika geopolitik yang semakin kompleks. Ia menyebut hubungan antarnegara besar kian dipengaruhi kepentingan strategis dan politik yang bersifat transaksional.

“Tatanan global sebenarnya sudah multipolar sejak beberapa waktu. Namun pola interaksi antar kekuatan kini semakin didorong oleh kepentingan kekuatan dan transaksi politik,” ujar Airlangga.

Menurutnya, tren proteksionisme meningkat, sementara kepercayaan terhadap sistem multilateral menurun. Airlangga menyinggung tantangan yang masih dihadapi Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) untuk mencapai kemajuan pada isu perdagangan digital maupun penguatan rantai pasok global.

Di sisi lain, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga dinilai menghadapi kesulitan menjaga efektivitas multilateralisme akibat meningkatnya ketegangan geopolitik serta berbagai krisis global yang semakin kompleks.

Airlangga turut menyoroti situasi geopolitik di Timur Tengah yang memicu ketidakpastian global. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran disebut berdampak pada sejumlah negara lain di kawasan tersebut.

“Fluktuasi harga minyak menunjukkan betapa dinamisnya situasi geopolitik global saat ini,” katanya.

Per 10 Maret 2026, harga minyak Brent tercatat sekitar 90,42 dolar AS per barel setelah sebelumnya sempat melonjak hingga lebih dari 100 dolar AS akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.

Meski menghadapi tantangan global, Airlangga menilai Asia memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan ekonomi utama dunia pada masa depan. Ia menyebut pada 2050 kawasan Asia diproyeksikan menyumbang sekitar 52 persen dari produk domestik bruto (PDB) global.

Dalam proyeksi yang disampaikan, China diperkirakan menjadi ekonomi terbesar di kawasan dengan PDB hampir 58 triliun dolar AS (PPP), disusul India sekitar 44 triliun dolar AS. Indonesia diproyeksikan berada di posisi ketiga di Asia dengan PDB sekitar 10 hingga 11 triliun dolar AS, sementara Jepang di kisaran 8 hingga 9 triliun dolar AS dan Korea Selatan sekitar 3 hingga 4 triliun dolar AS.

Airlangga menekankan potensi tersebut hanya dapat terwujud jika negara-negara Asia memperkuat kerja sama regional dan membangun kepercayaan antarnegara. Ia juga menyoroti pentingnya memperkuat konektivitas kawasan serta menjaga perdagangan terbuka berbasis aturan.

“Alih-alih terfragmentasi, kita harus memperkuat konektivitas. Alih-alih proteksionisme, kita harus memperkuat perdagangan terbuka berbasis aturan,” ujarnya.

Ia menambahkan, ASEAN diproyeksikan menjadi salah satu blok ekonomi utama dunia pada 2050. Saat ini, kawasan ASEAN disebut telah memiliki PDB kolektif sekitar 4,13 triliun dolar AS. Indonesia sendiri diperkirakan akan menjadi salah satu dari lima ekonomi terbesar dunia pada 2050.

Selain itu, Airlangga menilai kerja sama ekonomi regional seperti Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) dan Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP) menjadi pilar penting untuk memperkuat integrasi ekonomi kawasan. RCEP dengan nilai ekonomi sekitar 38,8 triliun dolar AS mewakili sekitar 30 persen perdagangan global, sedangkan CPTPP mencakup ekonomi dengan nilai sekitar 15,8 triliun dolar AS.

Airlangga menegaskan Indonesia siap bekerja sama dengan berbagai mitra di kawasan untuk memperkuat ketahanan ekonomi global. Ia menyampaikan ekonomi Indonesia diproyeksikan tumbuh sekitar 5,4 persen pada 2026. Indonesia juga mencatat surplus perdagangan selama 69 bulan berturut-turut hingga awal tahun ini. Inflasi nasional disebut tetap terkendali, dengan defisit fiskal sekitar 2,68 persen terhadap PDB.

“Kami juga mempercepat strategi Indonesia Incorporated, yaitu sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan seluruh elemen bangsa untuk mencapai tujuan pembangunan bersama,” ujar Airlangga.

Menurutnya, ketegangan geopolitik global dan volatilitas harga energi menjadi pengingat bahwa stabilitas ekonomi tidak bisa dianggap pasti. Namun ia menyatakan optimistis Asia dapat memainkan peran besar dalam ekonomi dunia jika tetap berkomitmen pada kerja sama regional yang terbuka dan inklusif.

“Jika Asia tetap berkomitmen pada kerja sama terbuka dan menolak persaingan zero-sum, maka tahun 2050 dapat menjadi abad Asia,” kata Airlangga.