BERITA TERKINI
Airlangga Ajak Negara Asia Perkuat Kerja Sama Regional dan Multilateralisme

Airlangga Ajak Negara Asia Perkuat Kerja Sama Regional dan Multilateralisme

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mendorong negara-negara Asia memperkuat kerja sama regional dan sistem multilateralisme untuk menghadapi dinamika ekonomi global yang dinilai semakin tidak pasti.

Pernyataan itu disampaikan Airlangga dalam sesi Asian Leaders Roundtable pada Tokyo Conference 2026 di Jepang, Rabu (11/3). Dalam forum tersebut, ia menyoroti perubahan signifikan tatanan global yang ditandai meningkatnya proteksionisme dan menurunnya kepercayaan antarnegara.

Airlangga juga menyinggung situasi geopolitik yang memanas, khususnya eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Menurutnya, kondisi tersebut menekan stabilitas ekonomi dunia, antara lain melalui lonjakan harga minyak yang melampaui US$100 per barel serta ancaman gangguan jalur energi di Selat Hormuz. Ia menilai hal itu menunjukkan keterkaitan kuat antara stabilitas ekonomi dan keamanan global.

Di tengah kondisi tersebut, Airlangga menyampaikan bahwa Pemerintah Indonesia di bawah arahan Presiden Prabowo Subianto mempercepat pengembangan energi domestik untuk menjaga ketahanan nasional. Indonesia telah mengimplementasikan program Biodiesel B40 menuju B50, serta mempercepat pengembangan bioetanol melalui program E10 menuju E20.

Selain itu, pemerintah juga menyiapkan kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya hingga 800 gigawatt sebagai bagian dari strategi transisi energi jangka panjang.

Forum itu dihadiri sejumlah tokoh ekonomi kawasan, termasuk mantan Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida dan mantan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono. Dalam kesempatan tersebut, Airlangga menegaskan pentingnya peran Asia sebagai penyeimbang kekuatan global.

Ia menyebut Asia diproyeksikan menyumbang sekitar 52 persen terhadap PDB global pada 2050. Karena itu, kerja sama melalui ASEAN dan G20 dinilai menjadi instrumen penting untuk mencegah fragmentasi ekonomi menjadi blok-blok yang saling bersaing.

Terkait kondisi domestik, Airlangga memaparkan ekonomi Indonesia diproyeksikan tetap solid dengan pertumbuhan sekitar 5,4 persen pada 2026. Ia juga menyebut keberhasilan mempertahankan surplus neraca perdagangan selama 69 bulan berturut-turut hingga awal 2026 sebagai bukti ketahanan ekonomi nasional.

Airlangga menambahkan Indonesia akan terus mengedepankan sinergi “Indonesia Incorporated” antara pemerintah dan dunia usaha untuk memperkuat daya saing global.

Menutup paparannya, Airlangga menyampaikan Asia memiliki peluang besar memimpin stabilitas ekonomi dunia jika tetap berkomitmen pada keterbukaan dan inklusivitas. Ia juga menegaskan posisi Indonesia dalam menavigasi ketidakpastian global dengan tetap berpegang pada diplomasi non-blok.

Ia optimistis Asia dapat menghadapi persaingan kekuatan besar tanpa terjebak dalam rivalitas yang merugikan, serta menolak pendekatan zero-sum dalam hubungan antarnegara.