Samarkand—Asian Development Bank (ADB) meluncurkan fasilitas pembiayaan strategis baru untuk mempercepat pengembangan rantai pasok mineral kritis di kawasan Asia dan Pasifik. Inisiatif ini diproyeksikan mendukung transisi energi bersih, pengembangan ekosistem baterai dan kendaraan listrik, serta kemajuan teknologi digital.
Pengumuman peluncuran disampaikan Presiden ADB Masato Kanda pada ADB Annual Meeting ke-59 di Samarkand, Uzbekistan. Kanda menekankan mineral kritis akan menjadi fondasi penting bagi industri masa depan.
“Asia dan Pasifik seharusnya lebih dari sekadar sumber bahan baku. Kawasan ini juga harus mampu meraih penciptaan lapangan kerja, penguasaan teknologi, dan mengoptimalkan nilai tambah yang dihasilkan dari mineral-mineral tersebut,” kata Kanda, dikutip dari laman ADB, Senin, 4 Mei 2026.
Fasilitas yang diberi nama Critical Minerals-to-Manufacturing Financing Partnership Facility dirancang untuk mendorong negara-negara berkembang di kawasan melampaui aktivitas pertambangan ekstraktif menuju hilirisasi industri bernilai tambah, termasuk pengolahan, manufaktur canggih, dan daur ulang.
Kanda menyebut inisiatif ini mencerminkan urgensi sekaligus aspek keadilan dalam ekonomi global. “Membangun rantai pasok yang bertanggung jawab sekarang, agar negara-negara anggota berkembang kami dapat bersaing dalam manufaktur canggih dan menciptakan peluang di dalam negeri,” ujarnya.
Fasilitas tersebut dibangun melalui dua instrumen utama, yakni mekanisme hibah dan mekanisme pembiayaan katalitik. Mekanisme hibah akan digunakan untuk tahap awal proyek, termasuk studi kelayakan, penilaian dampak lingkungan dan sosial, serta bantuan teknis. Untuk skema ini, Pemerintah Jepang berkomitmen menyalurkan dana sebesar USD20 juta, disusul komitmen Pemerintah Inggris sebesar USD1,6 juta.
Sementara itu, pembiayaan katalitik dirancang untuk menarik pembiayaan bersama sekaligus memitigasi risiko investasi dari mitra finansial lain. Sebagai langkah awal, Korea Eximbank dan Korean Trade Insurance Corporation (K-SURE) menandatangani nota kesepahaman sebagai mitra utama, dengan nilai komitmen masing-masing USD500 juta.
ADB menyatakan dukungan finansial dari konsorsium internasional ini akan memperkuat strategi jangka panjang yang telah dijalankan sejak awal 2025. Sejumlah langkah yang disebut telah dilakukan antara lain dukungan terhadap manufaktur dan daur ulang baterai di India, pemetaan data geologi di Mongolia, serta integrasi kecerdasan buatan untuk produksi logam kritis di Uzbekistan.
Selain itu, ADB juga disebut terlibat dalam penyusunan strategi mineral kritis di Kazakhstan, serta perumusan peta jalan dan reformasi regulasi di Filipina. Bersama para mitranya, ADB turut membangun Basis Data Mineral Kritis yang diharapkan menyajikan informasi terkait rantai pasok global dan menjadi landasan perumusan kebijakan yang lebih terukur di Asia-Pasifik.
Menurut ADB, peluncuran fasilitas ini diarahkan untuk merespons meningkatnya kebutuhan global terhadap energi bersih dan teknologi digital. Inisiatif tersebut juga diposisikan sebagai katalis yang diharapkan dapat mendorong penyerapan tenaga kerja serta pertumbuhan ekonomi kawasan yang inklusif.