Acer mengumumkan strategi untuk menghadapi krisis harga RAM global dengan mencari pasokan chip memori dari vendor yang lebih kecil dan pendatang baru. Langkah ini ditempuh untuk mengurangi ketergantungan pada tiga produsen besar DRAM yang dinilai semakin memprioritaskan kebutuhan pusat data kecerdasan buatan (AI), sehingga berisiko mendorong kenaikan biaya komponen bagi pasar konsumen.
Manuel Linning, Direktur Pemasaran EMEA Acer, mengatakan kepada Tom’s Guide bahwa perusahaannya tengah “melihat ke banyak vendor yang lebih kecil” untuk pasokan chip RAM. Menurutnya, pendekatan tersebut diharapkan membantu menstabilkan harga PC dan laptop konsumen di tengah lonjakan biaya memori.
Krisis harga RAM saat ini dikaitkan dengan perubahan fokus tiga raksasa DRAM—Samsung Electronics, SK Hynix, dan Micron Technology—yang menguasai sekitar 95% produksi DRAM dunia. Di tengah meningkatnya permintaan pusat data AI, ketiganya disebut mengalihkan prioritas produksi untuk kebutuhan server AI yang menawarkan margin keuntungan lebih tinggi. Kondisi ini memicu persaingan pembelian antara sektor perangkat konsumen dan perusahaan AI yang memiliki kemampuan membayar lebih, sehingga harga RAM standar untuk konsumen ikut terdorong naik.
Dalam laporan yang sama, disebutkan Micron telah menghentikan bisnis memori konsumennya untuk fokus pada pasar AI. Namun, dampak kenaikan harga komponen ini belum sepenuhnya tercermin pada harga laptop secara keseluruhan. Intel menyatakan produsen laptop masih memiliki stok RAM yang cukup untuk “sekitar 9 hingga 12 bulan ke depan.”
Acer menilai persoalan ini bersifat industri dan mendorong setiap produsen mencari cara masing-masing. Linning menyebut Acer tidak hanya terpaku pada pemasok yang sudah mapan, tetapi juga membuka peluang bagi vendor yang sebelumnya tidak terlibat dalam rantai pasok yang sama, selama memiliki kapasitas untuk beralih dan memenuhi kebutuhan.
Sejumlah laporan juga menyebut Acer meminta mitranya menelusuri chip memori yang diproduksi secara lokal di Tiongkok. Beberapa produsen PC besar lain—termasuk Asus, Dell, dan HP—dilaporkan turut menjajaki opsi pasokan baru, dengan perhatian mengarah pada produsen memori asal Tiongkok seperti CXMT (ChangXin Memory Technologies) dan YMTC (Yangtze Memory Technologies Corp).
CXMT disebut agresif meningkatkan produksi DDR5 dan dipandang berpotensi mengisi celah pasokan ketika tiga produsen besar lebih fokus ke memori untuk AI. Sementara YMTC, meski masuk dalam daftar hitam perdagangan AS, disebut memiliki skala produksi yang besar. Produsen ponsel pintar Tiongkok seperti Huawei, Xiaomi, dan Oppo, serta Lenovo, dilaporkan telah bekerja sama dengan YMTC.
Informasi yang dihimpun menyebut HP telah memulai pengujian dari CXMT, dan Dell juga melakukan pengujian serupa. Acer diperkirakan dapat mengikuti langkah tersebut apabila kondisi pasokan terus memburuk hingga pertengahan 2026.
Ketua Acer, Jason Chen, menyatakan bahwa bertambahnya kapasitas dari pemasok Tiongkok dapat membantu meredakan kekurangan memori. Di sisi lain, Linning menyoroti bahwa kalangan gamer sangat sensitif terhadap kenaikan harga yang dipicu kebutuhan AI, karena dapat menggerus nilai jual sistem kelas menengah dan anggaran seperti lini Nitro.
Dengan memperluas opsi pemasok di luar tiga pemain dominan, Acer berharap dapat menjaga harga produk tetap terjangkau bagi konsumen di tengah krisis pasokan memori yang diperkirakan masih berlanjut dalam beberapa tahun ke depan.

