BERITA TERKINI
AAPA: Industri Penerbangan Asia Pasifik di Jalur Capai Target 5 Persen Avtur Berkelanjutan

AAPA: Industri Penerbangan Asia Pasifik di Jalur Capai Target 5 Persen Avtur Berkelanjutan

Pemerintah di berbagai negara Asia Pasifik dinilai semakin aktif membantu maskapai mewujudkan penerbangan yang lebih berkelanjutan. Direktur Jenderal Asosiasi Maskapai Penerbangan Asia Pasifik (AAPA) Subhas Menon mengatakan, industri penerbangan kawasan ini berada di jalur yang tepat untuk mencapai target penggunaan bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau sustainable aviation fuel (SAF) sebesar 5 persen pada akhir dekade ini.

Dalam wawancara dengan Channel News Asia, Menon menyebut pemerintah di Asia Pasifik bekerja sama dengan maskapai, pemasok bahan bakar, produsen, dan bandara untuk mengejar target tersebut. Ia menambahkan, sebagian besar pemerintah di kawasan ini telah menyiapkan pemasok bahan bakar berkelanjutan.

AAPA sebelumnya, pada 2023, menyatakan komitmen untuk mengupayakan pemanfaatan SAF sebesar 5 persen pada 2030. Asosiasi perdagangan ini mewakili maskapai berbasis Asia Pasifik dan saat ini beranggotakan 18 maskapai.

Seiring target itu, semakin banyak pemerintah di kawasan Asia Pasifik yang memperkenalkan kebijakan dan peraturan untuk mendukung agenda keberlanjutan industri penerbangan. Kebijakan tersebut antara lain mendorong adopsi bahan bakar jet yang lebih bersih, mempromosikan inovasi teknologi, serta memperkuat kolaborasi lintas sektor.

Singapura menjadi salah satu contoh. Negara tersebut menerapkan pungutan SAF, di mana penumpang pesawat yang berangkat dari Singapura dikenakan bea mulai dari 0,77 dolar AS per tiket, bergantung tujuan dan kelas perjalanan. Singapura juga menargetkan SAF menyumbang 1 persen dari seluruh bahan bakar jet pada tahun depan, lalu meningkat menjadi 3 hingga 5 persen pada 2030.

Di Indonesia, pemerintah disebut sedang mempertimbangkan peraturan yang mewajibkan penerbangan internasional dari Jakarta dan Bali menggunakan campuran SAF 1 persen mulai tahun depan. Porsi itu direncanakan meningkat bertahap menjadi 5 persen pada 2035.

Menon menilai kebijakan dan regulasi diperlukan untuk mempercepat produksi serta adopsi SAF. Menurutnya, biaya yang tinggi, keterbatasan infrastruktur, dan ketidakpastian pasar membuat sektor swasta sulit meningkatkan skala secara mandiri.

Sejumlah pakar penerbangan memandang SAF sebagai jalur paling memungkinkan menuju penerbangan yang lebih hijau karena dapat digunakan pada pesawat dan infrastruktur bandara yang sudah ada. SAF dibuat dari bahan terbarukan atau berbasis limbah, bukan minyak bumi. Sumbernya dapat berupa biofuel dari tanaman, bahan berbasis limbah seperti minyak goreng bekas, atau bahan bakar elektronik sintetis yang dibuat dengan menggabungkan karbon yang ditangkap dengan hidrogen.

Meski begitu, ketersediaan SAF masih terbatas. Pada 2024, SAF disebut hanya menyumbang 0,3 persen dari produksi bahan bakar jet global.

Selain SAF, Menon juga menekankan pentingnya kemajuan teknologi untuk meningkatkan efisiensi sebagai bagian dari peta jalan industri menuju emisi nol bersih. Namun, ia menyoroti adanya hambatan lain, termasuk kebijakan tarif yang diberlakukan Amerika Serikat yang diperkirakan memicu inflasi dan menghambat pemulihan rantai pasokan, mencakup produksi, pengiriman pesawat, mesin, dan komponen.

Di tengah tantangan tersebut, permintaan perjalanan diproyeksikan tetap tumbuh. Sejak pandemi, jumlah wisatawan meningkat setiap tahun. Secara global, pada 2024 tercatat 1,5 miliar kedatangan internasional, naik 12 persen dibanding tahun sebelumnya.

“Permintaan untuk perjalanan udara, baik kargo maupun penumpang, sangat kuat. Semua orang ingin bepergian, baik untuk bisnis maupun liburan,” kata Menon. Ia menambahkan, hal itu menjadi salah satu alasan pemerintah di Asia Pasifik berupaya mendukung pertumbuhan industri, sembari membantu sektor penerbangan mengatasi persoalan keberlanjutan.